Nazarudin Jadi Tersangka Pencucian Uang Kasus "Garuda"

  • PDF
{Paluhakim, Jakarta} Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazarudin, kini kembali ditetapkan sebagai tarsangka tindak pidana pencucian uang (TPPU) pada kasus pembelian saham PT Garuda Indonesia oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK melalui juru bicaranya, Johan Budi kepada wartawan, Senin (13/2) menyatakan tersangka Nazaruddin dijerat Pasal 3 atau Pasal 4 juncto pasal 6 Undang-undang nomor 8 tahun 2010 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait pembelian saham PT Garuda Indonesian sejak pekan lalu.
 
Menurut Johan Budi ini merupakan sejarah pertama KPK mengunakan UU TPPU untuk menjerat seorang tersangka.

Johan Budi menyataan penetapan Nazar panggilan Nazarudin, pihaknya telah mempunyai cukup bukti dimana dua alat bukti yang cukup atas dugaan tindak pidana yang dilakukan Nazaruddin.

Seperti diketahui sebelumnya, dalam persidangan Nazaruddin, terungkap Grup Permai membeli saham perdana Garuda Indonesia senilai total Rp 300,8 miliar. Pembelian saham tersebut menggunakan keuntungan yang diperoleh Grup Permai skandal proyek-proyek pemerintah.

Hal tersebut terungkap saat Yulianis memberikan kesaksian di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (25/1/2012) lalu. "Total pembelian saham Garuda itu Rp 300,8 miliar, itu semua dari keuntungan proyek," bebernya.

Yulianis menjelaskan pada 2010 Grup Permai memperoleh keuntungan sekitar Rp 200 miliar dari proyek senilai Rp 600 miliar. Uang itu dibelikan saham Garuda oleh lima anak perusahaan Grup Permai.

Rinciannya, kata Yulianis, PT Permai Raya Wisata membeli 30 juta lembar saham senilai Rp 22,7 miliar, PT Cakrawaja Abadi 50 juta lembar saham senilai Rp 37,5 miliar, PT Exartech Technology Utama sebanyak 150 juta lembar saham senilai Rp 124,1 miliar, PT Pacific Putra Metropolitan sebanyak 100 juta lembar saham senilai Rp 75 miliar, dan PT Darmakusuma sebanyak Rp 55 juta lembar saham senilai Rp 41 miliar rupiah.

Sebagai pemeriksaan pertama kasus ini, KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap saksi yakni Wakil Direktur Keuangan Permai Group Yulianis dan asisten pribadi Neneng Sri Wahyuni, Oktarina Furi, Senin (13/2/2012). Selain itu, KPK juga akan melakukan pemeriksaan terhadap Direktur Keuangan PT Duta Graha Indah (DGI), Laurensius Teguh Khasanto dan Dirut PT Mandiri Securitas Harry Maryanto Supoyo
Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: