Tiga WNA Dituntut Hukuman Mati dan Penjara Seumur Hidup

  • PDF

Narkoba[Paluhakim - Jakarta] Jaksa Penuntut Umum menuntut hukuman mati dan seumur hidup kepada tiga terdakwa Warga Negara Asing (WNA) yang diduga merupakan jaringan pengedar narkoba internasional.

"Menyatakan terdakwa Ataliat Joses Guambe alias Lawrence telah terbukti bersalah. Oleh karena itu kami memohon kepada majelis hakim agar menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana mati," kata JPU Arya Wicaksana saat membacakan tuntutannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (26/4).

 

Menurut Arya Wicaksana, terdakwa terbukti bersalah melanggar dakwaan primer Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Perbuatan terdakwa juga dinilai telah memenuhi seluruh unsur perbuatan pidana memiliki tanpa hak dan melawan hukum untuk menyerahkan narkotika dengan berat melebihi 5 gram.

Selain menuntut hukuman mati kepada warga negara Mozambaik,  Ataliat Joses Guambe alias Lawrence, Jaksa juga menuntut hukuman seumur hidup kepada Disck Jokkey (DJ) Orjan Robert Elovsson warga negara Swedia dan Narawadee
Phothijak, asal Thailand.

Menurut JPU, berdasarkan fakta persidangan, Orjan Robert Elovsson dan Narawadee Phothijak saat berada di Vietnam dihubungi Ataliat yang sudah di Jakarta. Kemudian keduanya menghubungi terdakwa Ataliat untuk mencarikan hotel untuk tempat tinggal sementara, selama keduanya berada di Jakarta.

Berdasarkan keterangan kedua pasangan asal Swedia dan Thailand, peristiwa ini terjadi pada 17 Agustus 2011 di sebuah pasar tradisional Vietnam, seorang lelaki berkulit hitam menemui Orjan dan menerima dua
buah tiket penerbangan tujuan Doha-Johannesburg-Jakarta.

Tiket tersebut atas nama Orjan dan Narawadhee Phothijak serta uang tunai sebesar US$ 150. Tidak hanya itu, Orjan pun menerima dua buah koper warna hijau dan cokelat merek Rich Polo. Dalam dinding tas koper itu terdapat satu buah kantong dibungkus lakban warna hitam berisi narkoba berbentuk kristal bening.

Kemudian, pada 27 Agustus 2011, ketiganya mendarat di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta. Orjan pun menghubungi Lawrence. Dalam perbincangan melalui sambungan telepon itu, Lawrence meminta keduanya menemui di Hotel Grand Kemang.

Setelah bertemu, keduanya menyerahkan tas tersebut kepada Lawrence. Kemudian Lawrence memberikan sebesar US$600 untuk biaya pulang ke Vietnam. Selain itu, ia juga memberikan uang sebesar Rp 1,6 juta sebagai biaya sewa kamar 336 yang telah dipesan sebelumnya oleh Lawrence.

Rencana ketiganya tak berjalan mulus. Sebab, pada 28 Agustus sekitar pukul 01.30 kamar 336 di geruduk aparat kepolisian. Di dalam kamar itu, Lawrence kedapatan hendak mengambil satu kantong terbungkus lakban hitam dari dinding koper warna hijau dan cokelat.

Diketahui lakban itu kristal berwarna putih dengan berat 33.260 gram dari koper hijau, dan dari koper coklat kristal putih seberat 3.336,8 gram. "Bahwa dengan demikian unsur melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana telah terpenuhi," pungkasnya.

sementara itu, penasihat hukum Lawrence yakni Barin V Hanni Menyatakan pihaknya akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) pada persidangan pekan depan. "Kami pelajari dulu tuntutan jaksa dan yang pasti kita akan pledoi," ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh penasihat hukum terdakwa Orjan dan Narawadee, Ronny Napitupulu bahwa pihaknya juga akan mengajukan pledoi.

Sidang kembali dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pembacaan nota keberatan dari para terdakwa. [Baren Siagian]

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: