Tokoh Genosida Diminta Diadili di Rwanda

  • PDF

[Rwanda - Paluhakim] Idelphonse Nizeyimana, orang yang paling dicari dalam genosida atau pembunuhan besar-besaran di Rwanda tahun 1994 telah ditangkap di Uganda, Selasa (6/10/2009). Nizeyimana adalah kepala dinas intelijen pada jaman genosida yang menewaskan 800.000 orang baik dari kalangan Tutsi maupun Hutu moderat.

Ia telah dikirim ke Tanzania untuk menghadapi pengadilan perang yang dibentuk PBB, dengan tuduhan mengorganisasi pembunuhan ribuan orang termasuk seorang ratu Tutsi.

Rwanda menyambut baik penangkapan itu. Tetapi, Pemerintah Rwanda menyatakan, seharusnya Nizeyimana diadili di Rwanda, bukan di Tanzania.

“'Tak ada batasan waktu untuk persoalan keadilan, lambat atau cepat yang penting ia diadili,”' kata Augustine Nkusi, jurubicara untuk kejaksaan agung seperti dikutip BBC.

Menurutnya, 15 tahun adalah waktu yang sangat pendek bila dibandingkan kejahatannya di Rwanda. Masih banyak korban yang tidak lupa dengan perbuatannya, yang belum menerima keadilan.

Nizeyimana, yang saat itu berpangkat kapten, adalah ketua badan intelejen dan operasi militer sekolah elite angkatan darat, ESO, saat genosida terjadi.

Tuduhannya ia merancang, memantau, dan melaksanakan rencana untuk menghabisi kalangan Tutsi, suku minoritas di sebuah negara yang perintah oleh pemerintah Hutu selama lebih tiga dasawarsa. Ia dituduh mendirikan unit militer khusus untuk melakukan pembantaian.

Membunuh Ratu

Salah satu unit yang ia bentuk diyakini telah membunuh Ratu Rosalie Gicanda, janda Raja Mutara III yang meninggal pada 1959 beberapa saat sebelum Rwanda menjadi republik.

Menurut laporan Human Rights Watch yang dibuat tahun 1999, tentara Hutu mengambil ratu berusia sekitar 80 tahun tersebut dari rumahnya di Kota Butare dan menembaknya di belakang museum nasional. Mereka juga membunuh beberapa dayang yang merawat ratu tersebut.

Tuduhan lain adalah ia mendirikan blokade jalanan sehingga orang Tutsi bisa dicegat, ditangkap, lalu dibunuh. Juga dikatakan tentara yang berada di bawah komandonya masuk ke Universitas Butare, membunuh dosen dan mahasiswanya dalam upaya menghabisi kaum terdidik Tutsi.

Dokumen palsu

Seperti dua juta warga Hutu Rwanda, Nizeyimana melarikan diri setelah genosida dan bersembunyi di negara tetangga, Kongo. Ia diyakini aktif dalam sebuah organisasi militer pemberontak pro-Hutu bernama Front Demokrasi untuk Pembebasan Rwanda, FDLR.

Diyakini, Nizeyimana naik pangkat hingga menjadi kolonel di FDLR dan para pejabat Rwanda berharap penangkapannya itu akan mempengaruhi jalannya organisasi tersebut.

Ia ditangkap di sebuah hotel sederhana di Ibukota Uganda, Kampala.
Polisi Uganda mengatakan ia menyeberang dari Kongo minggu lalu dan dalam perjalanan menuju Kenya menggunakan dokumen palsu. Pengadilan kriminal internasional untuk Rwanda yang berpusat di Arusha, Tanzania, mengatakan Nizeyimana akan disidang secepatnya.

Pengadilan yang harus menyelesaikan tugasnya akhir tahun depan itu mengatakan mereka masih mencari 11 pelarian lain. Sejauh ini sudah 40 orang diadili dan dihukum terkait dengan genosida Rwanda. [Fernando]


 

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: