Pidana Mati di Jepang “Sebabkan Kegilaan”

  • PDF

Terpidana hukuman mati di Jepang nyaris menjadi gila akibat kerasnya kondisi mereka, demikian laporan kelompok HAM Amnesty International yang dilansir Kamis (10/9/2009).

Seperti dikutip BBC, kelompok itu menyerukan adanya penghentian sementara segera terhadap seluruh bentuk eksekusi dan mereformasi model interogasi polisi.

Total 102 narapidana menghadapi eksekusi di Jepang. Sebagian besar mereka sudah lanjut usia dan menghabiskan puluhan tahun dalam kondisi nyaris terisolasi.

Standar perlakuan HAM internasional melarang pelaksanaan hukuman mati terhadap orang yang dinyatakan terganggu jiwanya.

Di Jepang, dimana tingkat kriminalitas mendapatkan hukuman hingga 99%, pelaksanaan hukuman mati banyak didukung warganya.

Namun Direktur Amnesty Inggris Kate Allen menyerukan agar pemerintah negara itu segera menghentikan eksekusi mati ini.

"Daripada dilanjutkan dengan sistem hukuman mati yang memalukan, pemerintah Jepang yang baru harus segera memberlakukan moratorium eksekusi mati," katanya.

'Meniadakan eksistensi'

Allen menyebut sistem hukuman mati sebagai "praktek pendiaman, pengasingan dan benar-benar meniadakan eksistensi".

Allen mengatakan praktek menginformasikan pada narapidana mati bahwa dalam beberapa jam mereka akan dieksekusi "benar-benar kejam".

Menurut laporan itu - dimana peneliti sangat ditantang oleh sistem peradilan Jepang yang sangat rahasia - kondisi yang dihadapi oleh banyak narapidana mati membuat mereka sangat terganggu jiwanya.

Para tahanan mati ini, menurut Amnesty, dilarang bicara pada tahanan lain dan ditahan dalam ruang isolasi.

Selain dua atau tiga kali sesi olahraga dalam seminggu, mereka bahkan dilarang bergerak dalam sel mereka kecuali terus duduk, kata Amnesty.

Sebagai akibatnya, banyak yang kemudian terganggu mentalnya dan delusif.

Antara Januari 2006 dan Januari 2009, Amnesty mengatakan 32 orang dieksekusi - termasuk 17 orang yang berusia diatas 60 tahun. Lima orang diantaranya berusia 70an, menjadikan mereka terpidana mati tertua di dunia. [TMS]

 

 

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: