Pledoi Jibriel "Saya Bukan Teroris"

  • PDF

PLEDOI
Atas Nama Terdakwa
MUHAMMAD JIBRIEL ABDUL RAHMAN


“SAYA JURNALIS BUKAN TERORIS”

DIBACAKAN
DI DEPAN SIDANG TERBUKA DI PN. JAKARTA SELATAN,
PADA KAMIS, 27 MEI 2010

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarokatuh
Mukaddimah
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
ﭧ ﭨ   ﮋ ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ   ﭯ  ﭰ    ﮊ [آل عمران]
ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ    ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ ﭡﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﭧ    ﭨﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ        ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﮊ [النساء]
ﮋ ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ   ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ    ﯔﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ ﯙ   ﯚ  ﯛ   ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﮊ [الأحزاب]
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ .
أَمَّا بَعْدُ : أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ . . .

ALHAMDULILLAH, Segala puji bagi Allah Swt yang telah menciptakan manusia, dan memenuhi segala kebutuhan mereka, kemudian menurunkan syari’at sebagai petunjuk jalan dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Allah Malikurrahman menciptakan siang dan malam bagi kepentingan makhluk-Nya, dan tidak menghentikan planet tata surya ini sekalipun sepanjang siang dan malam selalu ada manusia yang ingkar, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan kepada-Nya.


Shalawat dan salam kepada manusia pilihan, Muhammad Rasulullah Saw, penutup segala Nabi, yang diutus sebagai uswah hasanah bagi manusia. Dengan perantaraan lisan beliau, Allah Swt menebarkan rahmat Islam yang lengkap dan sempurna. Melalui petunjuknya, dibimbing manusia mengikuti jalan lurus, mengamalkan kebajikan, memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan. Segala perbuatan dan akhlak beliau menjadi tauladan praktis dalam menelusuri jalan-jalan kehidupan demi meraih keridhaan Ilahy.


Rahmat Allah semoga dilimpahkan kepada para kader mujahid dari kalangan shahabat beliau, yang sukses gemilang menampilkan peradaban dunia yang tidak pernah kering dari mata air kebenaran, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Setiapkali mereka mendatangi suatu wilayah, dibebaskannya penduduk di wilayah tersebut dari belenggu kesesatan, membela mereka dari kezaliman dan penindasan. Bandingkan dengan tentara penguasa-penguasa kafir, di Barat maupun di Timur, Amerika atau Eropa. Jika mereka memasuki suatu negeri, mereka datang untuk menjajah negeri itu, mengeruk kekayaan rakyatnya, menghancurkan moral, dan menghinakan masyarakatnya yang mulia.
Prilaku orang-orang kafir dimanapun hingga akhir zaman, telah diprediksi dalam Al-Qur’an:
ﭽ ﯼ  ﯽ  ﯾ   ﭼ

“Sesungguhnya apabila penguasa-penguasa memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menghinakan penduduknya yang mulia, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”  (Qs. An Naml, 27: 34)
Majelis Hakim dan Hadirin yang Kami Hormati Hari ini, untuk kesekian kalinya saya terpaksa menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ini dengan status, “Terdakwa Kasus Teroris,” sebagaimana dituduhkan Jaksa Penuntut Umum. Saya katakan terpaksa, karena saya tidak pernah berfikir bahwa suatu hari nanti dalam hidup saya akan menjadi pesakitan teroris. Sebab, bukan saja saya tidak memiliki kompetensi sebagai teroris, tapi juga seluruh latar belakang hidup saya sedikitpun tidak mengindikasikan gaya hidup teroris seperti yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ayah saya, tidak pernah mengajarkan agar setelah besar saya menjadi seorang teroris. Lembaga Pendidikan tempat saya belajar, sejak di Pesantren Lukmanul Hakim Johor Malaysia, hingga menempuh pelajaran di Pakistan, juga saya tidak menemukan adanya kurikulum pendidikan terorisme.


Saya ditangkap -persisnya diculik- pada  25 Agustus 2009, di tengah jalan setelah beberapa jam sebelumnya polisi mengumumkan saya termasuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Dua hari kemudian, Densus 88 mengantar surat penangkapan pada orang tua saya, Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman. Setelah 5 bulan meringkuk dalam tahanan Densus 88 di Markas Brimob Kelapa Dua Jakarta, barulah kasus ini mulai disidangkan terhitung sejak 23 Februari 2010.


Pada awalnya, penyidik mencecar saya dengan pertanyaan yang mengaitkan diri saya dengan peristiwa teror bom Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Saya meyakinkan para penyidik bahwa tidak ada relevansinya mengaitkan kasus ini dengan peristiwa bombing di atas, apalagi sebagai penyandang  dana sungguh tidak masuk akal. Pada 27 Agustus 2009, saya mengetahui bahwa Duta Besar Inggris datang menemui Kapolri, tiba-tiba kepolisian mengumumkan bahwa saya adalah mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan buronan kepolisian Noordin M. Top. Ketika itu, saya berfikir akan bebas dari tahanan karena para penyidik tidak dapat membuktikan sangkaannya; tapi malah masa penahanan saya diperpanjang hingga 4 bulan untuk kasus imigrasi.


Dalam kaitan ini, saya bertanya-tanya, apakah seseorang atau sekelompok orang ditangkap dan ditahan sebagai terdakwa teroris, berdasarkan perbuatan teror yang dia lakukan atau sekedar kecurigaan polisi ? Jika berdasarkan perbuatan, mestinya tidak ada alasan untuk menahan saya. Sebab, hingga di ruang sidang pengadilan ini, sekalipun dengan menghadirkan saksi-saksi, ternyata JPU gagal membuktikan bahwa sebagai pimpinan arrahmah.com, saya telah melakukan atau membantu melakukan tindakan teror di negeri ini.


Akan tetapi, jika alasan penangkapan dalam kasus terorisme ini berdasarkan asumsi jaksa atau kecurigaan Densus 88, lalu untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan saya ini? Penahanan terhadap diri saya sama sekali tidak memberi manfaat bagi perbaikan kondisi negeri ini, bahkan juga tidak mampu menghentikan aksi teroris. Memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, sesungguhnya lebih berbahaya dari teror itu sendiri. Sebab, aparat keamanan dalam hal ini Densus 88 akan bertindak sewenang-wenang, melakukan penangkapan kepada siapa saja yang dicurigai sebagai teroris. Kepolisian akan dengan seenaknya bertindak di luar koridor hukum dan melanggar UU No. 39 Th. 1999 tentang HAM (Semua orang semestinya diadili dalam peradilan yang adil dan tidak berpihak).


Akibat buruknya, dapat kita rasakan, sejumlah orang ditangkap ketika berangkat shalat Shubuh, dipukuli hingga babak belur, untuk kemudian dilepas karena tidak ada indikasi sebagai teroris, seperti yang menimpa Saefuddin Umar, atau Abu Fida, di Surabaya. Demikian pula kasus salah bunuh yang menimpa Syaifuddin Zuhri. Sejumlah fakta di lapangan, sejak 2001 sudah ada sekitar 541 anggota jaringan yang distigma teroris ditangkap atau di bunuh. Bahkan data terakhir menunjukkan peristiwa latihan militer di Aceh, Maret 2010, sudah ditangkap dalam kurun waktu dua bulan (Februari s/d Mei 2010) sebanyak 71 orang dan 13 orang dibunuh. Sekarang semua target perburuan teroris, dibabat habis tanpa ampun oleh Densus 88, tidak peduli apakah perbuatannya melanggar HAM, anti kemanusiaan, apakah yang ditangkap hanya sekadar guru ngaji atau pertemanan.


Adalah fakta, pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009, Densus 88 antiteror memburu para tersangka teroris. Tragisnya, akibat kecerobohan terjadilah berbagai kasus salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh. Seperti dibunuhnya Ibrahim di Temanggung yang diduga Noordin M. Top, ditembaknya Air Setyawan dan Eko yang diduga akan membom rumah presiden SBY di Cikeas. Tindakan ini menimbulkan ketakutan yang meluas, terutama masyarakat yang merasa terancam oleh sikap represif aparat keamanan.


Tindakan melanggar hukum, seperti pembunuhan tersangka pelaku terorisme dengan berpijak pada slogan, “Bila tidak didahului maka teroris akan mendahului membunuh polisi’, menyebabkan aparat keamanan bertindak brutal dalam penanganan terorisme. Inilah cara berfikir teroris yang digunakan Densus 88, lalu apa bedanya polisi dan teroris? Dalam hal ini, rakyat memerlukan kepastian hukum terhadap kasus terorisme yang digolongkan sebagai extra ordinary crime (Kriminal luar biasa).


Padahal tindakan brutal Densus 88 AT yang melakukan extra judicial killing (membunuh di luar ranah hukum) terhadap para tersangka teroris jelas melanggar HAM. Sekalipun pembunuhan terhadap mereka yang diduga jaringan teroris berlindung di balik Peraturan Kapolri No. 8 th. 2009 tentang implementasi standar HAM bagi Polisi dalam prosedur penangkapan terorisme, Komnas HAM telah menyatakan perbuatan demikian termasuk pelanggaran HAM berat, telah merampas hak hidup warga Negara sehingga mengakibatkan hilangnya hak atas rasa aman dalam masyarakat. Apalagi, Menkumham Patrialis Akbar meminta Mabes Polri menghentikan tembak mati teroris untuk optimalisasi mengungkap jaringan teroris.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


Kesempatan untuk membacakan pledoi ini, bagi saya sungguh kesempatan langka dan sangat berharga. Pembacaan Pledoi ini tidak dimaksudkan sebagai risalah pembelaan diri semata-mata; melainkan suatu usaha, guna meluruskan pandangan yang bengkok dan memperbaiki citra negatif jaksa penuntut terhadap visi dan misi Ar Rahmah Media sebagai sebuah media informasi dunia Islam.


Adalah penting bagi kami untuk menjelaskan bagaimana motivasi, tujuan serta latar belakang munculnya Ar Rahmah Media, yang salah satu medianya adalah arrahmah.com, ketika publikasi dan opini tentang jihad yang disinonimkan dengan terorisme secara tidak bertanggungjawab mendapatkan akses luar biasa dari media massa nasional dan internasional. Selain menista gerakan jihad, kemudian membunuh dan memenjarakan aktivis Islam yang distigma sebagai kelompok teroris, juga provokasi para politisi, pengamat teroris, dan intelijen begitu gegap gempita menyuarakan kepentingan asing yang mendiskreditkan gerakan Islam. Sementara aktivitas gerakan Islam yang hendak membangun kebaikan di bawah bendera syari’at Islam, akses informasinya dimatikan, bahkan dijauhkan dari pandangan publik secara sistematis.


Ketika tidak ada satu kelompok pun di dalam negeri yang menyuarakan gerakan jihad secara obyektif, dan menginformasikan pada masyarakat tentang stigma terorisme di seluruh dunia, saat itulah munculnya media online arrahmah.com ini, mewakili jeritan hati orang-orang yang disakiti karena keyakinannya, dan dilenyapkan dari kehidupan ini sebelum jelas apa dosa dan kesalahannya.


Dapat dibayangkan, hanya berbekal kecurigaan saja, sudah dipandang sebagai bukti kejahatan, sehingga mengakibatkan penderitaan bagi sejumlah pemuda-pemuda Islam di negeri ini. Maka, apabila kondisi tragis ini tidak dijelaskan berdasarkan bukti dan argumentasi, dan apabila kita tidak menerangkan bagian-bagian dari peristiwa itu kemudian meletakkannya di hadapan Majelis Hakim dengan cara yang benar dan obyektif, kita khawatir, bahwa Jaksa Penuntut Umum khususnya dan orang-orang yang memiliki pikiran serta kecenderungan buruk dan menyimpang terhadap Islam dan umat Islam akan semakin merajalela dalam usahanya menipu masyarakat.


Akhir-akhir ini memang kuat kecenderungan buruk dan sensasional dari aparat intelijen, khususnya Densus 88, yang dengan cerdik menggunakan para pengamat oportunis, mantan terpidana teroris yang berhasil di-deradikalisasi, untuk kemudian mereka berkomentar dan menjadikan gerakan jihad sebagai halusinasi bagi masyarakat guna mendiskreditkan para mujahid sebagai penggerak terorisme.


Perhatikanlah dakwaan serta berkas-berkas tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Ia berusaha menghidangkan kasus ini ke atas meja persidangan dengan segala kesalahan dan kecerobohannya. Karena itu, tanpa penjelasan yang memadai, berarti kita membiarkan jaringan anti jihad dan anti syari’ah Islam, untuk menanamkan dalam pikiran masyarakat, suatu gambaran yang keliru, kejam, dan anti kemanusiaan, tentang tujuan dan motivasi jihad fie sabilillah. Saya tidak ingin membiarkan masyarakat terus menerus ditipu oleh dongengan-dongengan sesat dan celoteh Jaksa Penuntut Umum yang tidak saja merusak lukisan wajah pemuda-pemuda Islam, tetapi lebih dari itu, mencoreng gambaran dakwah Islam secara keseluruhan.


Majelis Hakim dan Hadirin Sekalian


Saya menulis pledoi ini dengan perasaan risau dan dengan suasana batin yang mencekam. Di tempat saya ditahan sekarang, terdapat puluhan tahanan kasus teroris yang dalam kondisi sangat memprihatinkan. Di antara mereka terdapat seorang ibu muda, bernama Putri Munawarah, yang beberapa waktu lalu melahirkan bayinya di dalam tahanan. Ibu muda, istri dari tersangka teroris bernama Adib Susilo yang ditembak mati didepan anak-anak dan istrinya oleh Densus 88 dalam peristiwa penggerebegan di Solo, 17 September 2009, melahirkan bayinya tanpa disaksikan ayahnya. Keadaannya sungguh memilukan, karena dia ditahan bukan karena tindakan teror yang dilakukannya, melainkan karena dia istri dari seorang laki-laki yang disangka teroris. Tragisnya, berdasarkan sangkaan itu pula kemudian ia ditembak mati di depan istrinya sendiri.


Kekerasan sepertinya tidak serta merta ingin dihentikan oleh negara. Lihat saja kasus yang menimpa Putri Munawarah. Lantaran dituduh menyembunyikan DPO Noordin M. Top, Putri Munawarah harus mengalami masa-masa sulit di dalam hidupnya, yaitu kekerasan fisik dan psikologis. Mulai terjadinya penggerebekan Noordin M. Top pada 17 September 2009, Putri mengalami kekerasan berupa tembakan pada pinggul kirinya dan tewasnya Adib Susilo, suaminya, di tangan Densus 88.


Tak berhenti di situ, Putri yang tertembak saat hamil harus menjalani penahanan dan pemeriksaan yang ketat berkaitan keberadaan dirinya di lokasi persembunyian Noordin M. Top. Kekerasan ini pun masih berlanjut dengan penghilangan hak yang dimiliki Putri Munawarah berupa penangguhan penahanan dan hak untuk memberikan penyusuan kepada bayinya di tempat yang aman, serta terlindungi dari potensi tindak kekerasan.


Selain ibu muda Putri Munawarah, di luar tembok penjara terdapat ratusan istri dan anak-anak mereka yang dibunuh dan dipenjara ayahnya karena sangkaan kasus teroris, merintih menahan keperihan ditinggal orang yang dicintainya. Pada saat bayangan- bayangan keluarga orang-orang yang dipenjara meliputi pikiranku, aku tenggelam dalam gelombang masa lalu dari sejarah perjuangan ummat Muhammad Saw. Rasulullah Saw pernah menyaksikan shahabatnya Amar bin Yasir dan kedua orang tuanya sedang disiksa; beliau tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengatakan kepada mereka: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya balasan kalian adalah surga”.


Kemudian kurenungi masa kini yang kelabu. Ah, betapa banyak darah yang telah tertumpah, betapa banyak keluarga-keluarga yang dicerai-beraikan – suami-suami di renggut dari kasih sayang istri dan anak-anaknya – betapa banyak yang terlantar, baik pria, wanita, anak-anak serta mereka yang tidak memiliki kekuatan apapun. Betapa banyak anak-anak yang terbunuh atau terpenjara pada usia muda, yang tidak mengenal dan tidak dikenal oleh seorang manusiapun; siapa keluarga dan siapa pula ayah dan ibu mereka.


Duhai… berapa banyakkah ibu-ibu yang merintih menahan duka nestapa bagi anak-anak mereka yang dizalimi karena agama? Terdapat begitu banyak ibu-ibu kehilangan suami, dan anak-anak kehilangan ayahnya. Mereka menanggung beban yang menikam-nikam kehidupannya. Anak-anak mereka merintih, tanpa dapat mengungkapkan rindu kasihnya pada ayah tercinta. Setiap kali petaka datang menerpa, terbayang langkah-langkah anggota Densus 88 mendatangi rumahnya untuk menahan mereka sebagai sandera, kendati demikian, ibu-ibu ini tak mengenal putus asa.


Kepada anak-anak dan ibu-ibu beserta bayi mereka yang ditinggal mati oleh ayahnya, atas mereka semua kuhadiahkan senandung pelipur lara, yang ditulis oleh seorang mujahid Hasyim ar-Rifa’i, berjudul : “Senandung Janda Seorang Syahid Menina-bobokkan Putranya.” Senandung ini dipersembahkan pada anak-anak dan istrinya, sebelum ia mengakhiri kisah hidupnya di atas tiang gantungan rezim Gamal Abdul Naser di Mesir. Beginilah bunyi senandung itu :


Tidurlah sayang,
Usah kau temani aku dalam duka dan derita
Ku kan susui engkau dengan air susu dan darah luka
Sampai kubimbing engkau meraih kehidupan
Wahai orang yang menatap dunia ini
Namun tak melihat ayahnya di sana .
Jangan terbawa dusta yang mereka taburkan anakku
Bebaskan tanah air yang tenggelam ini
Andai ada kebenaran di sekitar mereka
Tak nanti mereka kejar ayahmu
Tak nanti mereka jebloskan dalam penjara
Tak nanti mereka siksa orang tak berdosa
Tak nanti mereka hunus pedang menentang kebenaran
Dengan wajah beringas penuh benci!

Dalam kesempatan ini pula, saya ingin mengungkapkan perasaan belasungkawa terhadap keluarga, sanak saudara maupun handai tolan dari mereka yang menjadi korban teror bom di seluruh tanah air, yang dilakukan oleh mereka yang disebut teroris itu. Saya menyampaikan rasa simpati, karena mereka telah menjadi korban akibat sesuatu yang mereka sendiri tidak mengerti. Semoga Allah Malikurrahman berkenan membimbing kita ke jalan kebajikan, dan meringankan beban di dunia dan akhirat kelak. Amin…!

Majelis Hakim yang kami Hormati

Mengawali pledoi ini, sebelum sampai pada pembahasan pokok-pokok dakwaan Jaksa Penuntut, saya ingin menyampaikan harapan kepada Hakim, Jaksa, dan Pembela, tiga jabatan yang punya status berbeda dalam majelis ini. Kita semua tentu mengetahui, seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, bahwa Indonesia hari ini dikenal dengan negeri Mafioso. Ada mafia peradilan, ada mafia kasus, mafia hukum,  mafia korupsi, mafia narkoba, mafia penjualan bayi, mafia pornografi, dan sekarang ada mafia teroris. Sehingga Presiden sendiri membentuk Satgas untuk pemberantasan segala macam mafia tadi.


Oleh karena itu, ruang pengadilan janganlah dijadikan tempat jual beli keadilan. Ruang pengadilan tidak hanya membutuhkan tanggung jawab sosial bagi tegaknya keadilan, tapi juga tanggung jawab moral; agar hukum bukan sekadar instrumen tata tertib dan instrumen politik kekuasaan. Saya tidak meragukan kemampuan majelis persidangan untuk menegakkan keadilan, tapi saya ragu, maka untuk inilah saya ingin mengingatkan:


Pertama, kepada Para Hakim :


Seorang Hakim adalah orang yang teliti dalam pekerjaan, memperindah perbuatan dan pelaksanaannya serta mempraktekkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu, seorang Hakim tidak boleh menghukum atas dasar pendapat pribadi, apalagi berdasarkan “pesan telepon”. Keputusan-keputusannya harus didasarkan atas dalil-dalil yang bertanggung jawab; dengan alasan-alasan serta bukti-bukti yang dikemukakan oleh kedua belah pihak.


Hakim harus memberi kesempatan yang memadai kepada pihak-pihak yang bersengketa–dalam hal ini saya dan Jaksa Penuntut–untuk mengemukakan argumentasi serta bukti-bukti yang dimiliki. Seorang Hakim tidak boleh memihak kepada jaksa–dalam kedudukannya sebagai wakil pemerintah. sementara argumentasi terdakwa dikesampingkan begitu saja. Apabila Hakim berbuat sebaliknya, ini merupakan pengkhianatan secara terang-terangan terhadap kebenaran dan keadilan.
Takutlah akan suatu hari nanti, dimana setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya, seperti tertera di dalam Al-Qur’an, bahwa kelak di akhirat:


“Tiap-tiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Qs. Al-Muddatsir, 74:38)
Kedua, kepada Jaksa Penuntut Umum :
Adalah hak setiap orang dalam semua undang-undang yang didasarkan atas hak asasi manusia; bahwasanya terdakwa semestinya harus tetap bebas, sepanjang belum terbukti kesalahannya di hadapan pengadilan. Kecurigaan saja tidak dapat dianggap bukti kesalahan sehingga dengan itu tersangka harus ditahan. Namun, kenyataannya, Jaksa maupun Densus 88 seenaknya saja melakukan penangkapan dan kemudian menahan saya, meski tanpa proses pengadilan bahkan, tanpa dasar hukum. Dalam surat penahanan tanggal 27 agustus, 2009, Jaksa beralasan, penahanan dilakukan karena: “dikhawatirkan terdakwa melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti atau mengulangi tindak pidana”.


Saya mau lari kemana pak Jaksa, saya tinggal disini, orang tua saya juga tinggal di negeri ini. Sedang barang bukti tidak mungkin dapat dihilangkan karena saya bekerja pada sebuah media online yang legal, formal, yang dapat diakses semua orang. Lalu tindak pidana apa yang akan saya ulangi melakukannya?


Sebagai juru bicara pemerintah, dalam menjalankan tugasnya, anda tidak boleh berlaku curang dan memihak dalam mengemukakan tuduhan. Anda tidak dibenarkan memusuhi terdakwa, apalagi menghina dan mengejeknya. Penghinaan dan tuduhan palsu adalah dua bentuk kejahatan yang mesti dikenai sanksi hukum. Pasal-pasal hukum menyatakan, bahwa pendakwa–dalam hal ini adalah Jaksa–hendaknya bersikap hati-hati untuk tidak begitu saja menafsirkan ucapan terdakwa, menyalahi apa yang diucapkannya. Apalagi dengan menyatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah diucapkan atau diperbuat terdakwa.


Saya mengingatkan Anda dengan nasihat Al-Qur’an: Wala taziru waziratun wizra ukhra (“Jangan melemparkan kesalahan kepada orang lain yang tidak bersalah”).
Ketiga, kepada Penasehat Hukum :


Anda telah menyiapkan diri untuk memberikan pembelaan atas kasus Ar Rahmah Media, itu sudah cukup bagi saya untuk mengucapkan terima kasih. Tapi saya perlu mengingatkan, bahwa seorang Pembela sudah seharusnya berdiri sebagai Pembela bagi terdakwa dan menolak setiap tuduhan yang diarahkan kepada orang yang dibelanya. Anda harus berusaha semaksimal kemampuan untuk membebaskan klien Anda, terutama bila terdakwa berada dalam dua sikap yang sulit: tertuduh dan sekaligus menolak tuduhan.


Ingat! Berdiam diri terhadap tuduhan palsu, berarti berkhianat pada keadilan dan penyelewengan terhadap fungsi seorang Pembela. Karena dengan begitu berarti memberi kesempatan kepada Jaksa untuk seenaknya membuat tuduhan palsu.


Anda harus melakukan tugas mulia ini dengan gagah berani untuk membenarkan yang benar dan mengatakan yang salah adalah salah; sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an: “Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang bathil sekalipun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” (Qs. Al-Anfal, 8:8).


Dalam kesempatan ini saya akan menginformasikan apa dan bagaimana Ar Rahmah Media itu, sebuah media Islam dimana saya menjadi pemilik sekaligus pimpinannya.
 I. Misi Ar Rahmah Media

 

Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Ar Rahmah Media yang didirikan pada tahun 2006, misi utamanya adalah sebagai penyeimbang berita-berita kaum muslimin dan jihad internasional yang selama ini didominasi media Barat. Jadi, seluruh aktivitasnya sama sekali steril dari misi terorisme, dan bukan seperti yang dituduhkan jaksa. Kru yang bekerja bersama saya adalah jurnalis Muslim yang mengemban misi dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, untuk meninggikan Kalimah Allah, menginformasikan kepada publik, bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, siapapun pelakunya. Kami bersimpati pada kebenaran, dan menolak kezaliman dalam segala bentuknya, termasuk kezaliman informasi.


Menyikapi maraknya teror bom di dalam negeri, maka sebagaimana media lainnya Ar Rahmah Media juga menginformasikannya ke publik seluruh berita terkait. Demikian pula heroisme para mujahid yang berjihad menghadapi kejahatan imperialis Amerika dan sekutunya di negeri Muslim seperti Afghanistan, Iraq, Palestina dan lain-lainnya, juga kami publikasikan secara online.


Dalam kaitannya dengan peristiwa bom maupun tindakan teror, posisi saya baik sebagai pribadi maupun pimpinan Perusahaan Ar Rahmah Media jelas. Yaitu menghadapi tantangan dakwah sesuai dengan kualitas tantangan itu. Kami tidak termasuk media yang gemar mengumbar cacian seperti dilakukan sejumlah kaum agamawan yang menjadikan mereka yang disebut teroris itu sebagai ikon untuk menolak jihad dan membenci mati syahid. Lalu, mereka ramai-ramai melontarkan opini, bahwa “pelaku bom Bali itu bukan mujahid tapi teroris, dan perbuatannya bukanlah jihad.,” bagai koor burung beo. Padahal, ketika terjadi konflik SARA di Ambon, dan pembantaian umat Islam di Poso, kebanyakan dari kaum agamawan dan tokoh ormas itu seolah menderita ‘sakit gigi’ alias bungkam saja.


Namun, Kami juga bukan komunitas yang gemar mengobral pujian terhadap hal yang tidak terpuji. Sebab, kami bangga sebagai pelopor media jihad dan berita dunia Islam, dan bukan pelapor pada penguasa jahat Amerika maupun antek-anteknya di Indonesia .


Maka, dalam kasus bom Bali I misalnya, ketika muncul pertanyaan, apakah ketiga terpidana teroris yang sudah dieksekusi mati, yaitu Imam Samudera, Amrozy dan Ali Ghufran. Apakah ketiga terpidana itu pelaku utama, tersangka yang dikorbankan, atau pelaku yang ditunggangi pihak ketiga? Ketika tidak ada yang memberi jawaban, baik pemerintah, kepolisian, kejaksaan, maupun para pengamat teroris, sehingga kasus ini tetap misteri hingga mereka ditembak mati, maka adanya kesan mencurigakan bahwa pemerintah sebagai kepanjangan tangan musuh Islam, sulit dihindari. Kenyataanya, hingga akhir hayatnya, ketiga terpidana yakin, yang mereka lakukan adalah jihad anti teroris melawan AS yang telah membantai umat Islam di Chehnya, Afghanistan, dan Iraq. Tindakan melawan kekafiran, menghadapi musuh yang menyerang umat Islam serta melawan golongan yang melawan dakwah Islam, adalah jihad yang utama. Untuk tujuan ini kita sepakat, tidak ada perbedaan di kalangan umat Islam.


Akan tetapi, di tengah pro kontra kasus tersebut, media online arrahmah.com yang saya pimpin, tampil dengan sikap dan opini yang jelas. Pertama, dari segi tujuan dan motivasi, bahwa tindakan membalas kezaliman, menghadapi kejahatan Amerika dan sekutunya yang menyerang umat Islam serta melawan golongan yang melawan dakwah Islam, adalah jihad yang utama. Untuk tujuan ini kita sepakat, tidak ada perbedaan di kalangan umat Islam.


Kedua, ini yang menjadi persoalan. Tindakan pembalasan atas kejahatan Amerika, yang dilakukan di wilayah yang tidak ada musuhnya, yaitu tentara Amerika, sekalipun diduga ada mata-mata AS di situ. Sehingga yang jadi korban adalah pihak yang bukan menjadi sasaran permusuhan, dan belum tentu setuju dengan kejahatan tentara Amerika, jelas ini tindakan yang tidak dapat dibenarkan, dan suatu kecerobohan yang tidak boleh diulang lagi. Karena melakukan penyerangan berdasarkan dugaan dan kira-kira bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw dalam hadist Bukhari.


“Hindarilah hukuman pidana selama ada syubhat (tidak pasti/tidak terdapat kejelasan bukti-buktinya).”
Akibat kecerobohan ini memang dahsyat. Muncul fitnah berupa kebencian terhadap amal jihadi. Opini yang berkembang pun negatif: “Para jihadis ternyata tidak hanya jahat pada orang kafir, tapi juga kepada sesama Islam. Buktinya, yang jadi korban bom banyak juga orang Islam.”


Dalam hal ini kami bersikap fair, obyektif dan syar’iyah. Kami berkeyaklinan, keberanian dalam pertempuran bukanlah semata-mata menyerang musuh, tapi mengatur strategi yang dapat mengantarkan pada kemenangan adalah keberanian juga. Oleh karena itu, kami menghimbau kepada JPU agar tidak menghujat gerakan jihad, sehingga lupa dan mengalihkan perhatian dari musuh-musuh Islam yang sebenarnya.


“Sesungguhnya telah merugi orang-orang yang zalim. Dan siapa yang mengerjakan amal shalih dan dia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak pula akan pengurangan haknya.” (Qs. Thaha, 20: 112).
Dalam kaitan ini, kami ingin bertanya kepada JPU, apakah sikap dan tindakan kami memberi pencerahan kepada masyarakat luas seperti ini dikategorikan sikap dan tindakan seorang teroris yang kemudian harus dituntut di muka pengadilan dengan tuduhan pelaku teror seperti yang menimpa saya sekarang? Saya yakin, majelis hakim akan dapat menilai pernyataan saya ini secara adil dan obyektif, dan dengan demikian menolak segala tuduhan JPU yang mengaitkan kasus saya ini dengan terorisme.
II. Jihad Anti Teror


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Bersamaan dengan pergantian kekuasaan di Amerika, dari George Walker Bush ke Barack Hussein Obama, memerangi para teroris seperti dilakukan Amerika Serikat terhadap Al-Qaida. Tapi kini malah, bukan saja hendak membasmi para teroris hingga ke akar-akarnya, tapi menyerang aliran pemikiran dan faham keagamaan yang implikasi politiknya pasti akan lebih parah.


Arah baru pemberantasan terorisme di Indonesia pun mulai mengalami perubahan orientasi. Setelah Densus 88 dianggap berhasil melumpuhkan teror dalam bentuk tindakan (bom), kini teror dalam bentuk ideologi pun menjadi sasaran. Artinya, tidak cukup hanya mengatasi bahaya teror tapi juga membasmi isme atau ideologi teroris. Untuk tujuan yang lebih spesifik, maka kabinet Indonesia bersatu jilid dua (2009-2014) menyiapkan rekayasa konstitusional komisi khusus berupa bakornas terorisme.


Selama ini jalan sesat para teroris dianggap berbahaya karena menggunakan agama sebagai justifikasi tindakannya, sehingga bisa menyeret sentimen keagamaan. Lalu, mengapa pemberantasan teroisme diarahkan untuk menyerang faham keagamaan yang dianggap sebagai penyulut ideologi terorisme?
Untuk menyegarkan ingatan kita tentang asal muasal istilah teror dan terorisme, bijaksana bila kita mundur sejenak ke abad 18. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi terorisme secara sistematis muncul sejak paruh kedua abad ke-19, yang dominan digunakan untuk menyebut kezaliman penguasa yang lahir dari rahim revolusi Perancis. Selama empat tahun pertama berkuasa, sekitar 40.000 orang yang dituduh anti pemerintah dibunuh secara sadis dan berutal. Selanjutnya, istilah terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Jadi, terorisme sejak awal digunakan untuk menyebut tindakan represif rezim penguasa terhadap gerakan subversi dalam negeri.


Di Indonesia, pasca peledakan WTC 11 September 2001 hingga periode pertama kekuasaan pemerintah Susilo Bambang Yudoyono (SBY), istilah terorisme dimaknai sesuai perspektif yang digunakan rezim AS pimpinan George Walker Bush. Yaitu, menjalankan propaganda the war against terrorism yang dilekatkan dengan gerakan jihad umat Islam. Sehingga terjadi keterpecahbelahan umat Islam melalui kategorisasi Islam moderat versus Islam radikal yang identik dengan fundamentalis atau teroris. Bahkan Samuel P. Huntington, dalam bukunya, Who Are We? (2004) menjadikan Islam sebagai ganti posisi Negara Uni Soviet dalam perang dingin melawan AS. Dalam sub judul “Militant Islam vs America ”, dia menyatakan bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


Setelah rezim George Bush digantikan rezim Barack Obama, memasuki periode kedua kekuasaan SBY, istilah terorisme diperluas menjadi radikalisme. Bahwa, terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut (termasuk Dr. Azhari dan kawan-kawannya) adalah buah dari pemahaman radikalisme Islam. Istilah ini juga merasuki lembaga-lembaga akademis yang seharusnya membangun pola pikir ilmiah dengan logika akademis, bukan paranoida berpikir dengan logika politik kekuasaan.
Sebuah seminar yang mengusung tema besar “Pencegahan Terorisme dan Radikalisme Berbasis Agama” pada pertengahan 2009 lalu di Jogjakarta, agaknya berusaha membangun sebuah logika politik sebagaimana pernah digagas oleh Depag RI, MUI dan Wapres  Jusuf Kalla tahun 2005, bahwa untuk mencegah terorisme, maka ajaran radikalisme Islam harus dilarang karena menjadi sumber tindakan kaum teroris.


Serangan opini yang dilancarkan kaum oportunis, sekuler, Islam liberal, salafi yahudi, dan mereka yang menggunakan demokrasi untuk mendiskreditkan Islam. Mereka mengaku Islam tapi mendiskreditkan para mujahid yang hendak menegakkan syariat Islam. Momentum terorisme yang dikembangkan di Indonesia sekarang sama sebangun dengan yang dikembangkan oleh AS setelah serangan 11 Sep WTC 2001. AS sampai detik ini gagal membuktikan tuduhannya terhadap serangan WTC, sehingga kelompok HAM internasional mengecam AS bahwa rezim Bush sebagai pelanggar HAM berat utama di dunia.


Namun hal ini terus dikembangkan di Indonesia dengan melibatkan kelompok oportunis dan pengamat munafiq,  untuk menciptakan opini dan suasana mencekam, gelisah dan saling curiga di tengah masyarakat dengan Densus 88 sebagai ujung tombaknya. Kelompok ini karena sifatnya yang hipokrit dan munafik selalu meneriakkan ketakutan dan mencerminkan sikap paranoid mereka terhadap kebangkitan Islam yang menuntut agar tatanan sekularisme dan materialism yang telah dipraktikkan di dunia sekarang ini.


Dalam kondisi panik dan kebingungan, muncullah berbagai spekulasi intelijen, termasuk menggunakan tafsir safsathah (semau gue) untuk mendiskreditkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai postulat terorisme. Akibatnya, arah pemberantasan terorisme mengalami disorientasi. Pada awalnya adalah perang global Amerika melawan mujahidin Al-Qaidah, kini berubah menjadi isu lokal yang diklaim mengancam keselamatan kepala Negara. Semula hendak memberantas teroris, malah kini menyerang pemikiran dan faham keagamaan.


Brigjen Anton Tabah, staf Ahli Kapolri, adalah salah seorang yang melakukan generalisasi menggunakan tafsir safsathah itu. Dalam tulisan  berjudul “Terorisme Sembunyi di Bungker-bungker” yang dimuat Harian Kedaulatan Rakyat, 15 Agustus 2009, Anton Tabah mengopinikan bahwa pengetahuan dan pemahaman agama yang dangkal menjadi aspek religius pemicu terorisme. Sebab, kata Anton, orang akan mudah menokohkan seseorang yang dipandang pandai di bidang agama dan menerima ajaran-ajaran dari kitab suci secara hitam putih.


Menurut Anton Tabah: “Biasanya yang membuat orang ekstrem dan radikal adalah firman Allah (Quran) Surat V ayat 44, 45 dan 47, yang artinya, “Barangsiapa tidak memakai hukum Allah maka ia Kafir, Zalim, dan Fasik.” Dimana Kafir, Dhalim, dan Fasik adalah golongan ahli neraka. Jika seseorang terkunci pemahamannya pada ayat-ayat ini secara hitam putih maka ia akan menjadi ekstrem radikal. Dari sinilah biasanya “ustadz perekrut” calon-calon anggota teroris memanfaatkan kedangkalan masyarakat terhadap agamanya. Inilah antara lain jawaban kenapa jaringan teroris di Indonesia mampu merekrut anggota-anggota baru.” (KR 14/8, hal 14).

 


Ayat tersebut di atas merupakan koreksi terhadap sikap orang-orang yang enggan menaati tuntunan Allah dan Rasul-Nya, yang mengutamakan pendapat dan dorongan nafsunya daripada syariat Allah Swt. Para mufassir memahami ayat ini sebagai kewajiban penguasa menjalankan syariat Islam. Mereka yang mengingkari dan menolaknya dinyatakan kafir, bila penolakan tersebut dilandasi keyakinan bahwa Syariat Islam tidak layak untuk mengatur umat manusia.


Label zalim dikenakan, misalnya pada seorang hakim yang menangani suatu perkara, dia lebih memilih hukum lain padahal syariat Allah mengatur perkara yang ditangani. Demikian pula, seseorang disebut fasik karena durhaka pada Allah. Meyakini kebenaran dan keadilan hukum Allah, tapi menolak mengamalkannya, malah memilih hukum sekuler.


Jadi, ketiga ayat tersebut di atas tidak ada kaitannya dengan tujuan maupun motivasi terorisme. Tidak ada seorang mufassir pun, sejak zaman para shahabat hingga mufassir muta’akhirin yang menafsirkan ayat tersebut seperti difahami Anton Tabah. Terorisme, siapapun pelaku dan apapun motivasinya, ayat tersebut tidak bisa dijadikan justifikasi. Apakah tindakan Densus 88 yang menganiaya dan membunuh tersangka teroris tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara hukum, merupakan justifikasi Pancasila dan UUD 1945?


Oleh karena itu, mengaitkan ayat di atas dengan terorisme jelas fitnah, sekaligus penistaan terhadap agama Islam. Begitupun, menganggap para mujahid yang berjuang menegakkan syariat Islam sebagai teroris atau sebaliknya memosisikan teroris sebagai mujahid, jelas provokasi negatif. Kita khawatir, anggapan demikian dapat mengundang konflik baru yang konsekuensi politisnya sulit diprediksi.


Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pidato kenegaraan menyambut delapan windu (64 tahun) kemerdekaan RI, 16 Agustus 2009, menyatakan bahwa sumber terorisme adalah keterbelakangan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Presiden SBY sama sekali tidak menyinggung keterlibatan kelompok atau ajaran agama tertentu sebagai pemicu terorisme di Indonesia. Sekalipun terkesan menghindar dan berhati-hati, untuk tidak mengaitkan agama dengan terorisme, tapi kita dapat memahami arah pidato SBY. Yaitu, adanya keinginan pemerintahan SBY lima tahun ke depan, untuk menjalankan politik yang lebih bersahabat dengan seluruh komunitas agama di Indonesia , sekalipun terhadap komunitas agama yang dinilai fundamentalis.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


Namun, berbeda dengan SBY, adalah komentar aparat intelijen, termasuk komentar tokoh-tokoh Islam ambivalen. Munculnya para jawara intelijen akhir-akhir ini, seperti Amsyad Mbai, Hendropriyono, Suryadarma, termasuk Anton Tabah, yang menuding pemahaman keagamaan sebagai ideologi terorisme, bukannya membantu menyelesaikan masalah terorisme. Sebaliknya, patut dicurigai mereka sedang menjalankan agenda global sebagai kaki tangan imprialisme asing.


Bukan mustahil, dengan menggunakan momentum pemberantasan terorisme, mereka berupaya menutupi ‘aib masa lalunya’ yang kejam terhadap gerakan Islam dengan cara menyisipkan fitnah. Akibatnya, apa yang selama ini dianggap bahaya jalan sesat para teroris, karena menggunakan ajaran agama sebagai justifikasi tindakannya, justru aparat keamanan melakukan kesesatan yang sama.
Maka sangatlah ironis, ketika Wakil Kadensus 88 Polda DIY membeberkan sebuah doktrin terorisme yang disusun oleh Mabes Polri dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh PUSHAM UII di Jogjakarta (3 September 2009, di Hotel Santika Premiere Jogjakarta). Dalam makalahnya Polri membuat dua kategorisasi terorisme di Indonesia, pertama Separatis Terrorism (Fretilin, Negara Maluku, OPM, GAM) dan kedua, Religious Terrorism (Kartosuwiryo, Daud Beureuh, Kahar Muzakkar, Ibnu Hajar dengan NII-nya). Siapa yang dimaksud Religious Terrorism itu, sudah bisa ditebak maksud dari pemaparan itu adalah Islam Terrorism!
Di kalangan akademisi, Pusat Pengkajian

 Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta  tahun 2004 menerbitkan hasil penelitian dalam bentuk sebuah buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” (Penyunting: Jamhari dan Jajang Jahroni).  Ada empat kelompok yang mendapat cap “salafi radikal” dalam buku ini, yaitu Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Hizbut Tahrir. Dalam pengantar buku ini ditulis: “Meskipun dalam beberapa tahun terakhir Indonesia dilanda fenomena gerakan salafi radikal, tetapi ternyata, survei membuktikan, bahwa mayoritas Muslim masih setia dengan ideologi Islam yang moderat dan toleran.”  Jadi, sesuai hasil penelitian UIN Jakarta itu, FPI, Laskar Jihad (sudah membubarkan diri), MMI, Hizbut Tahrir, bisa jadi tinggal tunggu waktu untuk diberangus.
Yang menari

k adalah kriteria ‘Islam radikal’ yang disebutkan dalam buku ini, yaitu: (1) Kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung (2) Dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka (3) Secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas (4) Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak  secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.


Melengkapi stigmatisasi ini, buku tersebut mengutip pendapat John L. Esposito bahwa ciri ideologi ‘Islam radikal’ (dari bukunya, Islam: The Straight Path).
Pertama, mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat. Kedua, mereka seringkali menganggap bahwa ideologi  masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak. Ketiga, mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial. Keempat, karena ideologi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak. Kelima, mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Dan keenam, mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil  tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.


Distorsi Agama


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


Stigmatisasi Islam radikal yang dituduhkan di atas ternyata mendapat penguatan dari aparat intelijen, termasuk tokoh-tokoh Islam ambivalen sehingga kian memperkeruh situasi. Pernyataan mantan kepala BIN Hendropriyono dan mantan Kadensus Suryadarma Salim, yang menuding kelompok Islam garis keras yang disebut sebagai Darul Islam, Ikhwanul Muslimin dan Wahabi sebagai biang kerok ideologi terorisme di Indonesia. Bahkan menuduh ayat Al-Qur’an (surat al-Maidah 54, 55 dan 57) sebagai sumber terorisme merupakan penistaan terhadap agama dan fitnah besar terhadap umat Islam. Munculnya para jawara intelijen yang menuding pemahaman keagamaan sebagai ideologi terorisme, alih-alih menyelesaikan masalah terorisme. Sebaliknya, patut dicurigai mereka sedang menjalankan agenda global sebagai kaki tangan imprialisme asing. Pasca peristiwa pengeboman JW Marriott dan Ritz-Carlton berkembang berbagai pandangan yang kemudian melahirkan teori spekulasi yang menyesatkan sebagaimana sesat fikir para teroris. Dalam memburu para teroris, aparat kepolisian terprovokasi dengan teori tebak tangkap.


Pertama, teori Safsathah, yaitu informasi dusta yang dibungkus dengan fakta-fakta fiktif. Pakar dalam logika safsathah ini adalah Sidney Jones (Direktur International Crisis Group) yang merupakan representasi dari pandangan AS yang baru-baru ini menawarkan database teroris Indonesia. Sidney dalam wawancara dengan TVOne, Senin (20/7), menyebutkan, Noordin M Top masih sangat berbahaya. ”Saat ini masih ada 12-13 orang. Untuk membuat bahan peledak tidak sulit, dan masih ada orang yang punya pengalaman dan berniat untuk melakukannya,” imbuh dia.


Menciptakan rasa takut di tengah masyarakat dengan isu terorisme, atau menteror jurnalis yang lantang mengkritik berbagai pelanggaran penanganan teror di Indonesia , adalah justru menjadi bagian dari aksi teror itu sendiri. Dalam teorinya, Sidney Jones sebelumnya menyatakan, jaringan teroris internasional Jamaah Islamiyah (JI) mengalami perpecahan internal. Noordin M Top yang diduga menjadi dalang di balik ledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton memimpin kelompok sempalan yang tidak tunduk pada JI induk.


Selain kelompok Noordin, lanjut Sidney, sebagian kelompok sempalan lain bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Pengasuh Ponpes Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan sempalan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

 


Sidney memperkirakan, pelaku pengeboman kali ini terkait dengan jaringan Noordin M Top. Tokoh utama paling diburu itu masih sangat berbahaya karena terus merekrut orang-orang untuk menjadi pelaku aksi pengeboman. ”Kita mencatat bahwa Noordin masih berbahaya karena kelihatannya masih aktif merekrut orang untuk operasi pemboman melalui temannya di Cilacap,” katanya.


Termasuk Kapolri sepakat dengan tudingan ini. Amerika. Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika, FBI, dan CIA. Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones mengejutkan orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu, karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan “The Case of The Ngruki Network in Indonesia”.


Oleh karena itu, tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan intelijen Barat, apakah teroris itu pelaku teror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan citra negatif Indonesia di mata internasional. Pers Indonesia pun larut dengan atau dalam teori safsathah Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Kedua, teori Jadal, untuk menguatkan pendapat tertentu dengan mengajukan fakta-fakta yang akurasinya masih dipertanyakan. Misalnya, pernyataan mantan kepala BIN, Hendropriyono, bahwa itu merupakan ulah anak buah Noordin M Top atau orang Islam yang menganut faham Wahabi. Sehingga sama seperti Sidney Jones yang menyatakan harus ditangkap mereka sampai ke akar-akarnya. Ucapan Hendropriyono juga demikian, harus ditangkap semua orang Islam fundamentalis yang membawa misi wahabi. Jadi, kalau Sidney Jones itu  memakai analisis safsathah (semau gue), sedangkan Hendropriyono menggunakan analisis harbi (permusuhan/kebenciannya terhadap golongan Islam), sehingga dia menuduh tanpa analisis.


Mantan Kadensus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol (pur) Suryadarma Salim. Surya menambahkan, sepanjang pengalamannya menelusuri jaringan Al-Qaidah melalui Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia, dalam kaitannya dengan bom, selalu ada bagian yang merakit. Jadi, tidak mungkin pelaku bom bunuh diri sekaligus yang merakit bom. Karena itu, pasti bom dirakit di luar. "Sudah jadi bom, baru dibawa ke dalam," kata jenderal polisi yang baru pensiun empat bulan lalu itu.


Surya yakin, jaringan Al-Qaidah berada di balik aksi pengeboman di Jakarta tersebut. Lantas, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran para teroris itu? Surya menjelaskan, JI sudah terbagi ke dalam beberapa zona. Misalnya, Malaysia dan Singapura sebagai zona ekonomi. "Orang luar negeri yang muslim lebih besar menyumbangnya dari pada orang Indonesia ," kata dia.


Nah, Indonesia menjadi daerah trainer untuk melakukan operasi-operasi. Yakni, untuk pelatihan setelah kamp JI dibubarkan Al-Qaidah dan dipaksa keluar dari Afghanistan. Selanjutnya, mereka membangun kamp di Mindanao, Filipina, yang disebut kamp Abu Bakar. " Indonesia tempat melakukan operasi dengan prediksi kalau Indonesia bisa dikuasai, Indonesia akan menyerang Singapura, Malaysia, Thailand, dan seterusnya," jelasnya.


Begitupun AM Hendro Priyono, mantan kepala BIN selama beberapa jam melakukan wawancara jarak jauh dengan TV one kemarin malam, 17-07-2009. Yang menarik adalah kesimpulan dia bahwa kaum ekstrimis Islam yang terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. Ini live session sehubungan dengan teror bom bunuh diri kemarin jumat pagi pukul 07:45 di hotel JW Mariot dan Ritz Carlton, kawasan Kuningan Jakarta Selatan.
Para ulama dan tokoh-tokoh ormas Islam yang gemar menyebut dirinya sebagai I

slam moderat haruslah bersikap adil dan bertanggung jawab. Tidak mengeluarkan statemen yang justru memosisikan diri sebagai musuh bagi terpidana, atau mengesankan adanya pertentangan kepentingan dan ideologi yang digerakkan, baik oleh kekuatan-kekuatan asing maupun hanya sekedar menjadi terompet penguasa. Sikap apriori dan provokatif seperti itu menunjukkan kelemahan dalam membaca peta ideologi dan makar politik dari musuh-musuh Islam.


Ketiga, teori Khithabi (provokasi) analisa standar, yang digunakan oleh SBY. Dia menyatakan ini adalah perbuatan lawan politiknya. Ada indikasi bahwa SBY mengalami tekanan berat oleh intelijen asing untuk bersikap keras terhadap lawan-lawan politiknya. Bukan mustahil beberapa oknum aparatur keamanan yang dipersuasi oleh para oportunis politik tertentu untuk memanfaatkan elemen-elemen kekerasan dalam agama agar terjadi kekisruhan untuk mendeskreditkan lawan politiknya.


Ketika orang-orang ini juga yang tadinya sudah dididik oleh intelejen untuk melakukan beberapa aksi, lama-lama mereka sudah punya logikanya sendiri untuk membangun jaringan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh aparatur negara, aparatur keamanan. Inilah bola liar yang menjadi monster-monster baru yang ketika berkoneksi dengan pengalaman, bertemu dengan kekuatan Islam radikal di seberang sana kemudian memperoleh tambahan-tambahan pengetahuan, dari yang tadinya tidak bisa bikin bom menjadi bisa. Alhasil setiap tindakan refresif pasti melahirkan bibit munculnya elemen-elemen radikal dalam masyarakat. Beberapa serangan-serangan dan tindakan kekerasan di Indonesia, memang disitu ada aparat yang sengaja mengambil manfaat. Kadang-kadang jika terjadi tindak kekerasan, tidak segera diatasi supaya donasi atau dana-dana yang dialokasikan oleh donor Internasional bisa mengucur terus. Itu salah satu contoh aparat yang memanfaatkan isu-isu kekerasan agama untuk kepentingan pribadi.


Apa yang dilakukan di bawah rezim CIA dan pentagon menjadikan George Bush sebagai pelaksana, nampaknya kebijakan tersebut dialihkan ke Indonesia di bawah pemerintahan yang mengaku sebagai penegak demokrasi dan pelaksana reformasi, tanpa memperdulikan HAM yang menjadi hukum internasional. Orang yang disangkakan sebagai teroris dengan entengnya dihilangkan nyawanya atau ditangkap semena-mena berdasarkan UU anti teroris yang anti ham. Keberutalan semacam itu mengapa tidak dipersoalkan kaum oportunis seperti yang ramai dibicarakan di TV sebagaimana yang dilontarkan salafi yahudi.


Kesimpulannya siapa pun juga, yang merasa punya kriteria idelogi semacam itu, bersiaplah di cap sebagai  ‘Islam radikal’, ‘Islam fundamentalis’, ‘Islam militan’, ‘Islam revivalis’, ‘Islam literalis’, dan sebagainya. Dengan kriteria semacam itu, PKS, MUI, DDII, PBB, Hidayatullah dan sederet organisasi Islam lainnya dengan mudah bisa dimasukkan kategori ‘Islam radikal’, karena bersikap kritis terhadap pandangan hidup Barat dan meyakini pandangan hidup dan sistem Islam sebagai solusi kehidupan umat manusia.


Tersangka Imajinatif
Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Sejak perburuan teroris dilakukan polisi, sudah banyak anggota masyarakat yang menjadi korban salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh, hanya karena dicurigai menjadi bagian dari jaringan teroris. Bagi polisi, ‘Teroris itu orang jahat, maka tidak salah membunuh mereka kapan saja dan dimana saja, dan dengan cara apa saja. Hal ini, tentu saja mengundang keprihatinan dan menimbulkan ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Padahal, di antara mereka yang dibunuh itu, hampir pasti belum terbukti berbuat teror. Baru ‘diduga’ sebagai jaringan teroris.


Bahwa terorisme harus dibasmi, iya. Tetapi tindakan pembunuhan tanpa melalui proses pengadilan, jelas melanggar hukum. Ada pihak yang mengatakan, ‘bila tidak didahului maka teroris akan mendahului membunuh polisi.’ Jika logika ini digunakan, lalu apa bedanya polisi dengan teroris?
Penangkapan tersangka teroris di Indonesia lebih kejam daripada yang FBI maupun CIA lakukan. Ketika CIA menangkap tersangka teroris Hambali alias Ishamudin di Thailand, dia tidak dibunuh, melainkan ditangkap hidup-hidup. Bandingkan dengan Densus 88, hanya berdasarkan imajinasi dan sikap paranoid mereka telah mengeksekusi tersangka teroris dengan cara tembak di tempat. Untuk mengelabui sikap paranoidnya ini aparat kepolisian berkedok pada UU antiteroris dan merasa aman dalam tindakannya dari tanggungjawab penegakan hukum dan HAM.


Selain itu, tindakan kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan aparat kepada orang tua saya, Ustadz Abu Jibriel, bahkan tidak hanya sebatas penangkapan anaknya,saya,, M Jibriel, melainkan juga teror serta pencekalan dakwahnya di sejumlah masjid di Jakarta. Saat ini sudah beberapa pengurus masjid secara sepihak membatalkan dan mencekal pengajian rutin yang biasanya diisi oleh Ustadz Abu Jibriel. Pengurus masjid dan majelis ta’lim mengaku didatangi aparat dan diteror agar tidak lagi mendatangkan Ustadz Abu Jibriel untuk berceramah.


Di Masjid Ibnu Sina Al Azhar Pamulang, DKM Medco, menyatakan bahwa atas permintaan aparat keamanan setempat diminta untuk tidak memanggil Ustadz Abu Jibriel sebagai pembicara di acara ceramah rutin yang diadakan di Masjid Ibnu Sina Al Azhar-Pamulang, demikian pula di Masjid Agung Al Azhar Jakarta Selatan, pengurusnya serta merta memberhentikan beliau menjadi penceramah tetap karena ditekan oleh Densus 88 Anti Teror sejak saya ditahan.


Majelis Ilmu Riyadus Shalihin secara lebih tegas menyatakan bahwa Masjid Raya Pondok Indah didatangi oleh intel/aparat sehingga kemudian memutuskan untuk menghentikan dakwah/pengajaran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Jibriel di Masjid Pondok Indah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Tentu saja tindakan ini sangat merugikan dakwah Islam dan merupakan tindakan diskriminatif serta pengekangan hak para muballigh seperti yang terjadi di zaman orba. Tindakan kezaliman dan ketidakadilan ini mengingatkan kita kepada tindakan-tindakan represif rezim orde baru yang sangat membenci Islam dan kaum Muslimin. Apakah aparat dan pemerintah saat ini ingin mengulang kembali sejarah kelam rezim orde baru?


Setelah rezim angkara murka George Walker Bush digantikan Obama, Amerika berusaha untuk meninggalkan sikap paranoid yang menghantui Bush dan mencoba pendekatan lain dalam menghadapi kekuatan global Islam. Langkah AS ini nampaknya hendak dilimpahkan Negara Islam masing-masing untuk tetap meneruskan sikap paranoid penguasa terhadap gerakan Islam di negeri masing-masing.
Di Pakistan pada masa jenderal Musharraf dengan setia melayani kepentingan George Bush, tetapi justru menghasilkan kondisi yang menghantam Musharraf, ketika Benazir Butho yang menjadi korban dari kebijakan represif Musharraf. Akhirnya AS melengserkan Musharraf dengan menyuruhnya mundur dan membuka peluang untuk pemilu demokratis. Ketika pemilu ini dimemangkan oleh kekuatan PPP yang dikomandani suami mantan Benazir Butho dan kemudian memenangkan pemilu dan menjadi presiden Pakistan, AS di bawah Obama tetap melestarikan sikap pararnoid penguasa terhadap Islam di Pakistan.


Di Mesir dan Yordania juga terjadi hal yang sama, ketika Hamas yang diluluh-lantakkan oleh zionis Israel, maka Mesir mengisolir Gaza dengan melarangnya mengungsi baik ke Mesir maupun Yordan; karena Mubarak dan raja Abdullah menyatakan tidak akan memberi peluang kemenangan bagi Hamas.
Mengapa kedua Negara ini bersikap kejam dan biadab terhadap Hamas? Karena Hamas mengusung dan memperjuangkan syariat Islam bagi negeri Palestina, yang oleh Mesir dan Yordan dianggap sebagai musuh.


Lalu, bagaimana dengan Indonesia ? Sejak Soeharto Indonesia telah menjadi Negara bagian yang kesekian bagi AS secara defacto, karena kebijakan ekonomi, politik luar negeri dan dalam negeri semata-mata menjalankan nasehat gedung putih, termasuk ketika Soeharto menyerbu Timor Timur, 1975, setelah Portugal meninggalnya negeri itu. Bahkan, pada tahun 1979, saat Muhammad Natsir berkunjung ke Pakistan, dia berpidato di hadapan tokoh-tokoh pemerintahan dan swasta Pakistan, beliau meminta agar Pakistan mendukung Indonesia di forum PBB berkaitan dengan pengambil alihan Timor Timur oleh Indonesia, demi mencegah Timor Timur masuk blok komunis.


Dari sketsa politik global AS yang kami paparkan di atas dapat dipahami bahwa AS berubah startegi dan pola, lalu menyerahkan programnya kepada pemerintah masing-masing sesuai dengan kondisi riel domistiknya. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Obama dalam pidatonya di Universitas Kairo, Mesir, bahwa pemerintah AS tidak akan intervensi pada Negara manapun, tetapi akan mendukung setiap Negara yang melawan terorisme dan menegakkan demokrasi.


Statemen Obama ini secara politis menunjukkan keinginan kuatnya untuk tetap mengendalikan Negara Islam di dunia ini agar tetap mengikuti kehendak Amerika, tanpa Amerika campur tangan secara militer. Untuk kepentingan itu AS memerlukan boneka yang setia sampai mati menjalankan program Amerika.


Dalam perspektif politik global ini, penguasa Indonesia mencoba untuk menemukan formula yang tepat dalam melayani politik global Amerika dan zionis. Oleh karena itu, maka pihak aparat keamanan dan presiden mencurahkan segenap kecerdasan dan kecerdikannya untuk mengelelola berbagai masalah di dalam negeri dengan tujuan tidak merugikan kepentingan Amerika dan zionis, sekalipun mengorbankan nasib rakyat Indonesia baik seluruhnya maupun sebagian kecilnya.
Rezim Soekarno dengan nasakomnya adalah contoh klasik yang mengorbankan umat Islam untuk kepentingan komunis global pada zamannya. Soekarno membuat proyek konfrontasi dengan Malaysia dan kementerian dalam negeri menangkapi tokoh-tokoh Islam yang dicurigai menjadi teman dekat PM Malaysia ketika itu, Tengku Abdurrahman. Politik Soekarno ini menyebabkan Buya Hamka dan Kyai Ghazali, Ketua MUI, dijebloskan ke dalam penjara sejak 1964 hingga jatuhnya Soekarno tanpa proses pengadilan.


Kemudian rezim berganti. Soeharto naik tampuk kekuasaan, yang membantai umat Islam seperti kasus Priok, Lampung berdarah, dan DOM di Aceh. Baik rezim Soekarno maupun Soeharto selalu mengusung slogan kepentingan nasional dan pengukuhan NKRI yang tidak dapat di tawar-tawar.
Logika Soekarno dan Soeharto dengan sedikit polesan gincu tetap berjalan di masa orde reformasi ini. Sekalipun BJ Habibi dikenal sebagai presiden yang berjasa membuka pintu demokrasi sampai dengan rezim SBY sekarang, aroma kekangan politik Amerika dan zionis masih sangat kental.


Bertitik tolak dari perspektif politik semacam ini, maka rakyat Indonesia tidak perlu terkejut dengan munculnya rekayasa politik seperti pernyataan SBY tentang terorisme yang menghantam lawan politiknya dan isu terhadap pengeboman SBY dan entah apa lagi nantinya. Pemerintahan SBY telah memberikan peta aktivitas terorisme di Indonesia yang peta imajiner ini harus mendapatkan pembenaran empiriknya. Oleh karena itu diciptakankanlah teroris bohong-bohongan seperti Hotel JW Merriot dan Ritz Carlton, lalu penangkapan teroris di Jati Asih dan Temanggung.


Rekayasa semacam ini lalu dibawa ranah media massa dengan mengundang jawara intelijen Hendropriyono untuk mengomentari peristiwa ini dengan menyisipkan fitnah bahwa para teroris ini adalah dari kelompok gerakan Wahabi, Darul Islam, Ikhwanul Muslimin ala Hasan Al Banna. Hendro dengan entengnya melemparkan fitnah tersebut sebagaimana biasanya dilakukan agen zionis dan Amerika.


Hendropriyono yang mengaitkan terorisme dengan kekuatan penegakan syariat Islam di Indonesia adalah pemikiran produk rezim Soekarno yang kental dengan komunismenya. Karena kebencian komunisme terhadap Masyumi maka komunis terus menerus memberikan citra buruk tentang Islam melalui opini Soekarno. Apa yang dilakukan Hendro hanya merupakan kepanjangan tangan dari Soekarno (1959-1966).


Adapun gerakan Wahabi yang dipelopori oleh Abdul Wahab pada abad 19 M atau 1200 H, hanya mengajak umat Islam meninggalkan aqidah syirk, amaliyah yang bercampur aduk dengan kepercayaan syirik tanpa beliau pernah melakukan kekerasan fisik, melainkan dengan ceramah dan menulis buku. Dan tidak pernah ada bukti bahwa Syeikh Abdul Wahab mendirikan laskar untuk melakukan kekerasan pada rakyat. Adapun kerajaan Saudi Arabia di bawah pimpinan raja Ibnu Saud yang sering melakukan tindakan represif tidak berkaitan dengan paham keagamaan tetapi berkaitan dengan kelompok yang memberontak kepadanya.


Jadi antara Abdul Wahab dengan prilaku Ibnu Saud di dalam menegakkan kerajaannya merupakan dua hal yang berbeda. Syeikh Abdul Wahab tidak bisa dipersalahkan, apalagi Wahabi disebut sebagai pelopor teroris. Begitupun Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban tindakan kekerasan raja Farouk dengan penjajah Inggris, sehingga Hassan Al Banna dibunuh secara keji di tengah jalan. Padahal Hasan Al Banna hanya mengajarkan Islam kepada rakyat Mesir dan mengajak raja serta para pejabat kerajaan Mesir untuk menghargai agamanya, dan menyatakan tekad merdekanya dari penjajahan Inggris.


Pola yang digunakan Albanna dengan Ikhwanul musliminnya juga digunakan oleh Soekarno dengan PNI-nya, 1926. Ketika pola semacam ini digunakan orang Islam, Hendro mengategorikan sebagai teroris, tetapi terhadap Soekarno dan PNI tidak dianggap teroris.  Hendropriyono bicara tentang terorisme tidak bisa mendefinisikan, lalu menyeret kasus dalam sejarah Yunani sebagai contoh adanya terorisme. Pola berfikir ini menyalahi hukum logika, sebab seorang ahli logika bangsa Prancis Thomas Carlale menyatakan, “berikan difinisinya pada saya tentang apa yang Anda katakan agar saya dapat memahami maksud Anda. Tanpa definisi kita tidak dapat merumuskan sesuatu.”


Bertitik tolak dari pernyataan ini, maka tesis hendropriyono yang diuji 9 profesor sama sekali tidak berbobot ilmiah. Bagaimana menganggap data-data sebagai terorisme sementara definisi terorisme tidak dijelaskan. Bagaimana fakta seperti itu dianggap terorisme. Hendro harus bisa menjelaskan, tuduhan pejuang Islam sebagai teroris seperti yang Anda ungkapkan.


Berkaitan dengan teroris di Indonesia sekarang sejak bom Bali pertama, 2001, pemerintah tidak pernah bisa menjelaskan mereka dilatih oleh siapa dan didanai siapa, kecuali sekedar dugaan. Pengadilan teroris terhadap trio bomber tidak memiliki fakta bahwa ketiganya itu dilatih dan didanai oleh kelompok Al-Qaidah. Maka tuduhan terhadap Syeikh Usamah sebagai pendonor harus bisa dibuktikan secara hukum. Selama hanya menjadi wacana politik, maka ini adalah kebohongan yang dipaksakan kepada rakyat Indonesia .

 


Di tengah keprihatinan kita menyaksikan Indonesia sebagai negara mafioso, seperti dikatakan Presiden SBY, tentang merajalelanya mafia hukum, mafia peradilan, mafia kasus, mafia korupsi, mafia teroris, masih ada kelompok oportunis yang mendiskreditkan agama yang menganggap terminologi Islam sebagai identitas kaum terioris.


Misalnya, slogan Isy Kariman aw Mut Syahidan. Hidup Mulia Atau Mati Syahid. Slogan ini oleh aktivis Islam Liberal dianggap sebagai Slogan Pembangkit Militansi, ‘Teologi Maut’. Sebuah harian nasional yang rajin mengekspos ide-ide sekuler dan liberal menurunkan tulisan sejak tanggal 26 September 2009 secara berseri untuk membahasnya. Hampir seluruh penulisnya aktivis Islam liberal, maka arah dan kecenderungan tulisannya pun sudah bisa ditebak, yakni membela mati-matian ide liberalisme dan pluralisme serta menolak ide syariat Islam dan jihad.


Lantas, apakah makna dari slogan Isy Kariman aw Mut Syahidan yang sebenarnya? Isy Kariman aw Mut Syahidan berarti Hidup Mulia atau Mati Syahid, atau bisa juga berarti hiduplah dengan mulia dan matilah secara syahid alias menjadi seorang syuhada. Isy Kariman aw Mut Syahidan bukanlah sebuah  hadits, melainkan semacam moto atau slogan dalam khazanah perjuangan Islam.


Ungkapan ini pertama kali dikemukakan oleh ibunda Abdullah bin Zubair, yakni Asma Binti Abu Bakar kepada puteranya, Abdullah bin Zubair. Konteks ungkapan itu juga kontekstual dan sangat heroik, karena disampaikan oleh Ibunda Asma kepada putranya Abdullah bin Zubair agar tetap semangat berperang membela kebenaran sampai titik darah penghabisan melawan kekuasaan tiran saat itu pimpinan Hajjaj bin Yusuf.


Ungkapan ini menjadi istimewa karena diucapkan oleh seorang Shahabat atau Shahabiat, yang di dalam Islam memiliki kedudukan yang istimewa. Sebagian ulama bahkan berpendapat bahwa ucapan Shahabat termasuk dalil syar’i yang bisa dijadikan rujukan untuk melakukan amal perbuatan.
Salah Faham Terhadap Jihad


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


Diantara kesempurnaan kitab suci Al-Qur’an, di dalamnya dijelaskan tentang perang dan damai. Jika Al-Qur’an hanya berbicara soal perang atau perdamaian saja, maka tidaklah sempurna.
Sejak dunia mengenal bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sejak itu tidak ada suatu negara pun tanpa angkatan perang, persenjataan, latihan perang, dan undang-undang pertahanan dan keamanan. Dengan UU, setiap negara mengatur cara dan bentuk negara bersangkutan menjalankan pertahanan, melakukan penyerangan, dan meningkatkan upaya memelihara keamanan guna melindungi wilayah negara dan warga negaranya.


Terhadap UU semacam ini, tidak ada seorang pun yang berakal sehat menyatakan kecamannya dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas Hak-hak Asasi Manusia dan mengecamnya sebagai kekuatan yang mengancam keamanan dan keselamatan negara lain. UU semacam ini diterima sebagai hal yang rasional bahkan diterima sebagai salah satu piagam PBB yang membenarkan perang sebagai alat untuk mendamaikan pihak-pihak yang saling bertempur.


Adanya UU semacam ini tidak dianggap sebagai tindakan teroris atau agresi. Sementara, Amerika dan Negara Barat hanya berbekal kecurigaan adanya negara lain yang  membahayakan negerinya, lalu dengan segala semangat penuh nafsu menghancur-leburkan negara yang dianggap sebagai sarang teroris atau lawan yang berbahaya seperti membom Vietnam (1961 – 1970) dengan alasan sebagai sarang kekuatan Komunis Asia Tenggara, membom Afghanistan dan Iraq dengan tuduhan sebagai sarang teroris tanpa mengenal moral dan perikemanusiaan sedikit pun.


Islam yang menetapkan Syari‘at Jihad -yang dicurigai sebagai pemicu gerakan teroris di dunia dewasa ini- menuntut keadilan pemahaman kepada dunia, apakah dunia juga menganggap UU Pertahanan dan Keamanan negara-negara di dunia sebagai pemicu terorisme dunia. Kalau Dunia menerima kehadiran UU Hankam tersebut, maka logika yang waras mengharuskan kita untuk menerima dan membenarkan Syari‘at Jihad sebagai sebuah sistem pertahanan, keamanan, penangkalan, dan pemberdayaan ummat dalam menghadapi kekuatan destruktif dan agresif. Tetapi, anehnya akal waras tidak berlaku di tengah-tengah kehidupan dunia yang mengaku beradab dewasa ini.


Al Qur’an menegaskan latar belakang diwajibkan Jihad sebagai berikut:
1. Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ketika kebenaran dan keadilan dihancurkan oleh golongan zalim dan sesat. Keadilan dan kebenaran merupakan pilar-pilar penjamin ketenteraman dan keselamatan hidup ummat manusia. Bila hal ini terancam, maka Islam mengizinkan Jihad.
2. Menjamin kebebasan ummat manusia merasakan cahaya kebenaran dan hidayah Islam tanpa ada perasaan takut sedikit pun terhadap tekanan dan ancaman dari mana pun. Bila ada kekuatan-kekuatan yang menghalangi kebebasan semacam ini, maka Islam membenarkan dilakukannya Jihad dengan harta dan jiwa.
3. Membangun harga diri ummat Islam dalam berhadapan dengan musuh-musuhnya supaya tidak dihinakan dan dipermainkan. Guna mencegah kesewenangan musuh-musuh Islam terhadap kaum Muslimin, maka Jihad merupakan sarana paling ampuh untuk menggentarkan niat busuk musuh-musuh Islam (QS. Muhammad: 35).
4. Membebaskan golongan lemah dari penindasan penguasa tiran, supaya kaum tiran menghentikan tindakan tiraninya kepada golongan lemah. Maka, senjata yang paling ampuh untuk menundukkan kelompok tiran adalah dengan Jihad (QS. An Nisaa: 75)
5. Memelihara kewibawaan Islam di hadapan musuh-musuhnya agar ummat Islam tidak dirampas hak-haknya dan Islam dapat memelihara suasana perdamaian dan kesejahteraan dunia (QS. Al Anfaal: 60). Lima hal tersebut di atas merupakan realitas yang ada dalam kehidupan manusia sepanjang jaman. Sehingga, Islam harus memberikan respon dan solusi yang sejalan dengan tuntutan dinamika kehidupan manusia di mana saja dan kapan saja, yaitu suatu undang-undang pertahanan diri dari penyerangan musuh yang bersifat universal, rasional, dan realistis sejalan dengan tabiat dasar manusia.
Sebenarnya, agama Yahudi dan Kristen juga mempunyai doktrin perang sebagaimana termaktub pada Perjanjian Lama Kitab Ulangan: 20 ayat 10 (1) dan pada Perjanjian Baru Kitab Matius Pasal 10 ayat 24 (2). Kedua agama ini menjadikan perang sebagai alat untuk menguasai bangsa lain tanpa ada syarat-

syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk melancarkan perang.


Amaliyah Jihad


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Berbeda halnya dengan Islam, untuk melaksanakan Jihad harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus ada pengumuman dan pernyataan terbuka lebih dahulu kepada pihak yang hendak diperangi, dengan menerangkan alasan-alasannya yang sah (QS. Al Anfaal: 58).
2. Adanya pelanggaran perjanjian oleh pihak yang mengikat perjanjian dengan negara Islam, dan tidak mau mengindahkan peringatan-peringatan dari pihak Islam (QS. At Taubah: 4).
3. Adanya gelagat pengkhianatan dari pihak musuh Islam karena melihat tanda-tanda kelemahan dari pihak Islam (QS. At Taubah: 12).
4. Untuk membebaskan kaum Muslimin yang terancam kebebasannya di negeri-negeri bukan Islam di mana kaum Muslimin hidup dalam ketakutan dan kehilangan jaminan kehidupan beragamanya (QS. Al Baqarah: 190).

Syarat-syarat semacam ini tidak terdapat di dalam Taurat dan Injil untuk dapat dijadikan pedoman yang normatif dan permanen oleh pihak Yahudi dan Kristen. Justru kedua ayat di atas menjadi pemicu bagi ummat Yahudi dan Kristen untuk melakukan tindakan perang yang brutal dan di luar batas kemanusiaan terhadap siapa saja yang tidak disukainya dengan berbagai alasan-alasan dusta, seperti yang dilakukan Amerika terhadap Afghanistan dan Iraq.


Dengan memahami apa yang menjadi latar belakang Syari‘at Jihad, tujuan dan syarat-syaratnya sebagaimana dipaparkan di atas, maka dapatlah kita mengerti bahwa Jihad memiliki pengertian Umum dan Khusus, sebagaimana yang dijelaskan macam-macamnya oleh Imam Malik dalam kitab Al Mudawwanatul Kubra, juz V halaman 178 – 179.


Secara khusus, Jihad berarti memerangi musuh dengan pedang, yaitu memerangi kaum kafir dan musyrik yang memerangi Islam. Adapun Jihad dalam pengertian Umum, ada tiga macam:
1. Jihad melawan hawa nafsu, sebagaimana tersebut pada QS An Nazi ‘at: 40-41. Maksudnya jihad melawan godaan syetan, mengekang hawa nafsu dari melakukan hal-hal yang haram.


2. Jihad dengan lisan, yaitu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, seperti membantah kebohongan kaum munafik, mendebat propaganda golongan kafir dalam memutarbalikkan kebenaran Islam, seperti tersebut pada QS. At Taubah: 73.


3. Jihad dengan tangan, yaitu tindakan penguasa mencegah perbuatan-perbuatan munkar, dosa besar, dan kebatilan dengan kekuasaannya, seperti memberantas perjudian, melarang pelacuran, memusnahkan minuman keras, dan menghukum para pemabuk, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim.


Dari uraian di atas, jelas bahwa pengertian Jihad adalah perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi, baik dengan lisan, tangan maupun dengan pedang. Masing-masing bentuk Jihad tersebut diterapkan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisinya.


Adapun terorisme adalah bentuk tindakan destruktif agresif tanpa mengenal norma hukum, keselamatan ummat manusia, dan ketenteraman hidup bersama, bahkan sebaliknya sekedar untuk menimbulkan kemelut dan kekacauan. Terorisme merupakan bentuk anarkisme yang oleh Islam dikategorikan sebagai tindakan yufsiduuna fil ‘ardli. Tindakan semacam ini jelas dilarang di dalam Islam.
Misalnya, tindakan Densus 88 menembak mati di jalan-jalan, membunuh para tersangka teroris, termasuk mengintimidasi dan menyakiti anak istri mereka, tanpa melalui proses pengadilan yang adil,

 

jelas merupakan rtindakan teroris yang tidak layak dipertahankan di zaman modern ini.
Maka, mengaitkan terorisme terhadap perjuangan jihad kaum Muslimin adalah sebuah tindakan keji, tidak bermoral, dan menunjukkan mentalitas yang kacau. Orang semacam ini tidak bisa membedakan apa yang disebut membangun kebenaran dan keadilan dengan merusak kebenaran dan keadilan. Semua bentuk perang yang dilakukan oleh golongan non Muslim di dunia ini berkategori teror karena hanya menimbulkan fasadun fil ‘ardli baik dalam pandangan Islam maupun kepentingan peradaban.
Dalam hal ini, konsep jihad yang saya yakini, sebagaimana uraian di atas berbeda dengan mereka yang melakukan pengeboman-pengeboman di Indonesia sebagai negeri aman. Indonesia bukanlah wilayah perang, alias negara aman, sehingga saya tidak setuju dengan pengeboman. Berbeda dengan di Afghanistan, Irak, Chechnya, maupun Palestina, yang merupakan negara perang, karena ada invasi Amerika ke negara-negara Muslim tersebut.

 


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
III. Menjawab Tuduan Jaksa berdasarkan Fakta di Persidangan
a. Tuduhan Jaksa Imajinatif
Pada 25 Agustus 2009, mungkin hari paling kelabu dalam hidupku, ketika pelanggaran HAM dan anti kemanusian diperagakan dengan jumawa oleh Densus 88 anti teror. Setelah Kadiv Humas Kepolisian RI mengumumkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO), beberapa jam kemudian saya diculik di tengah jalan, diborgol kaki dan tangan, dengan mata ditutup. Alasan penculikan pun tidak jelas, karena saya tidak punya masalah kriminal ataupun pidana sebelumnya.


Kejamnya lagi, selama dalam tahanan polisi telah melakukan tindakan kekerasan yang sungguh tidak manusiawi. Dua hari kemudian, barulah Densus mengantar surat penangkapan pada keluarga saya. Sejak penculikan oleh Densus 88, saya dibawa ke sebuah tempat yang tidak saya ketahui dan disana saya dipaksa untuk mengaku bertemu dengan Noordin M Top.


Saya tentu saja menolak, karena saya memang tidak pernah bertemu dengan Noordin M Top, dan ketika saya menjawab seperti itu, maka saya langsung mendapatkan siksaan  secara fisik dan pelecehan. Bahkan, yang paling menyedihkan saya adalah ketika saya dipaksa untuk membuka semua pakaian saya hingga telanjang, dan diambil gambarnya. Saya juga diancam akan diekspos foto-foto tersebut jika saya tidak mengakui hal yang memang tidak pernah saya lakukan, yakni bertemu dengan Noordin M Top.


Pengumuman Kadiv Humas Mabes Polri, mengatakan bawa penangkapan dan penahanan dilakukan terhadap diri saya karena saya dicurigai sebagai penyandang dana teror bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Pada 27 Agustus 2009, Duta Besar Inggris datang menemui Kapolri, dan secara kebetulan pas waktunya, tiba-tiba Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Nanan Sukarna, mengeluarkan tuduhan baru, bahwa saya disebut sebagai mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan korban tersangka teroris Syaifuddin Zuhri. Nampaknya, tidak mudah bagi polisi merekayasa data dan fakta untuk mendaptkan stempel teroris dalam kasus saya, sehingga penahanan saya diperpanjang 4 bulan untuk tuduhan pelanggaran imigrasi.


Rekayasa dan tuduhan palsu yang dialamatkan pada diri saya amat sangat dipaksakan dan mengada-ada. Lihatlah kronologi dan perubahan tuduhan di atas tuduhan sebelumnya. Pada awalnya saya dituduh penyandang dana bom, mungkin dianggap kurang menyeramkan oleh polisi ditambah lagi dengan tuduhan menyembunyikan seorang tersangka teroris. Masih kurang berbobot, dan susah mencarikan alasan pembenarannya, maka tuduhan pun dilebar-lebarkan ke mana-mana oleh polisi. Ini masih dalam masa penyidikan. Setelah tidak terbukti, dan saya dapat membantah tuduhan tersebut secara telak, maka dicari-carilah alasan lain yang bisa memberatkan dan menjerat saya sebagai anggota jaringan teroris.


Padahal, seseorang yang sudah ditangkap sebelumnya, bernama Muhammad Ali yang diketahui berkewargaan Arab Saudi, dan disebut-sebut sebagai penyandang dana dan yang awalnya mengaitkan saya dengan peristiwa ini tidak pernah dimunculkan, bahkan kasusnya ditutup dan lenyap dimakan rayap.


Maka patut dipertanyakan, ada apa dengan Densus 88 dan Kepolisian RI. Untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan saya ini? Benarkah kecurigaan masyarakat selama ini, bahwa eksistensi Densus 88 sebagai broker teroris di Indonesia, dan bertindak berdasarkan pesan sponsor asing, dengan menjadikan aktivis Islam dan gerakan jihad di Indonesia sebagai objek penderita?


Rekayasa tuduhan menjadi semakin nyata, setelah saya membaca berkas dakwaan JPU (Jaksa Penuntut Umum), Firmansyah, yang didasarkan pada imajinasi spekulatif dan penuh kecurigaan. Saya akan menunjukkan argumentasi yang logis dan lugas, bahwa dakwaan JPU tidak saja palsu dan dipaksakan, tapi juga menggambarkan ironi hukum yang penuh jebakan.
Pertama, Jaksa menuduh saya menyembunyikan informasi tentang keberadaan tersangka teroris Noordin M Top, yang dikaitkan dengan Pasal 13 huruf C UU No 15 tahun 2003.
Kedua, Jaksa menuduh saya memalsukan identitas (KTP dan Passport) yang melanggar pasal 266 KUHP.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
b. Menjawab Tuduhan Jaksa
Tuduhan pertama: menyembunyikan informasi tentang keberadaan tersangka teroris Noordin M Top, yang dikaitkan dengan Pasal 13 huruf C UU No 15 tahun 2003. Untuk menguatkan dakwaannya, JPU menuduh saya telah bertemu dengan Noordin M Top di Bintaro.
Saya sudah sampaikan di awal tadi bahwa memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, lebih berbahaya dari teror itu sendiri. Sebab dengan demikian, aparat keamanan akan bertindak seenaknya melakukan penangkapan berdasarkan kecurigaan semata-mata, sebagaimana yang saya alami saat ini.


Nampaknya, JPU tidak peduli dan tetap saja bersikeras untuk mendakwa saya dengan pasal-pasal (UU Terorisme) yang penuh rekayasa, dengan menggunakan pasal karet (UU Terorisme). Sejak Pasal 13 huruf C UU No. 15 tahun 2003 (UU Terorisme) diundangkan sudah banyak merenggut nyawa uma Islam, dan terkenal sebagai pasal karet yang sangat spekulatif. Dengan pasal ini JPU mendakwa saya menyembunyikan informasi tentang terorisme, karena menurut jaksa, saya bertemu dengan Noordin M Top. Saya ingin menanyakan, apakah dengan bertemu seseorang, lalu beberapa waktu kemudian orang yang bertemu dengan kita itu melakukan tindak pidana tertentu, lalu kita juga dipermasalahkan dan dituduh telah melakukan hal yang sama, yakni terkait terorisme ? Inilah pasal karet tersebut, dimana sangat tidak jelas dan bisa berkembang kemana-mana tuduhannya.  Sebagai pimpinan Ar Rahmah Media, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media, maka mustahil bagi saya untuk menyembunyikan informasi, karena faktanya Ar Rahmah Media selalu menginformasikan berita-berita terbaru mengenai peristiwa ummat Islam. Fungsi dan tugas jurnalisme adalah menyampaikan informasi, khususnya tentang jihad dan dunia Islam. Jadi, bagaimana mungkin tuduhan yang dialamatkan kepada saya adalah menyembunyikan informasi?


Hal ini sudah saya jelaskan, bahwa saya hanya mengenal Noordin M Top ketika saya masih kecil, sebagai santri Ponpes Lukmanul Hakim di Malaysia; dan setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Jadi bohong dakwaan jaksa kalau saya bertemu Noordin di Bintaro. Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa saya tidak sepaham dengan Noordin M Top tentang amal jihadi dengan melakukan pengeboman di Negara yang tidak menjadi wilayah perang, karena akan mengorbankan masyarakat yang tidak menjadi sasaran perang.


Syahwat imajinatif JPU nampaknya belum terpuaskan dengan jawaban saya, sehingga dengan segala cara JPU menjerat saya. Untuk itu JPU menghadirkan saksi-saksi dari imigrasi, agen biro jasa pembuatan passport, tersangka teroris, termasuk Pimred arrahmah.com.
1. Keterangan Saksi Amir Abdillah:
Untuk mendukung tuduhannya, JPU menghadirkan saksi kunci Amir Abdillah, yang diharapkan dapat memperkuat tuduhannya. Tapi Alhamdulillah, yang terjadi di ruang pengadilan ini justru sebaliknya, saksi Amir Abdillah yang juga tersangka teroris dan belum pernah saya kenal, secara tegas menyatakan, “sama sekali belum pernah dan tidak kenal dengan M Jbriel dan tidak melihat atau menyaksikan bahwa M Jibriel pernah bertemu dengan Noordin M Top.”
Kesaksian Amir Abdillah bagi jaksa, bagai pepatah, “menepuk air di dulang muka sendiri kena berlepotan.” Amir Abdillah adalah satu-satunya saksi yang dihadirkan jaksa yang katanya menyaksikan pertemuan saya di mobil dengan Noordin M Top, ternyata Amir Abdillah membantah dan tidak mengetahui, tidak melihat adanya pertemuan tersebut.


Kesaksian Amir Abdillah di hadapan majelis hakim, jelas menyatakan bahwa kedatangannya ke Bintaro, Sektor 9, bersama Noordin M Top dan Syaefuddin Zuhri di dalam satu mobil. Sesampainya di tempat, dirinya disuruh menjauh dari mobil, sekitar 200-300 meter, dan dirinya tidak tahu dan tidak ikut pertemuan kala itu. Dia juga tidak tahu siapa yang ditemui oleh Noordin dan Syaefuddin Zuhri. Jadi, dengan tegas Amir Abdillah, saksi kunci dari JPU tidak mengetahui dan tidak melihat siapa yang ditemui Noordin dan Saefudin Zuhri ketika itu.


Adanya kesaksian Amir Abdillah, sudah cukup menggugurkan dakwaan jaksa. Dan bagi saya, tidak ada kepentingan apapun untuk bertemu dengan Noordin M Top, karena kami telah bersimpang jalan dalam implementasi jihad sebagaimana telah saya jelaskan di atas.
2. Saksi M. Dudung alias Abu Wildan:
Dalam keterangan saksi berikutnya, yaitu saksi Abu Wildan kita akan menyaksikan, bahwa dakwaan JPU tidak jelas, membingungkan, spekulatif, dan penuh ramalan
JPU menyatakan, sebagai mantan guru Noordin M Top memiliki hubungan emosional yang sangat dekat dengan saya. Karena kedekatan emosional inilah, menurut JPU saya menyembunyikan informasi tentang Noordin M Top.

Namun, dakwaan ini lagi-lagi terbantahkan oleh keterangan saksi Abu Wildan, yang juga guru saya dan teman Noordin M Top. Bahkan Abu Wildan menyatakan, bahwa hubungan diantara saya dan Noordin M Top kurang begitu harmonis bahkan cenderung bertentangan.
Abu Wildan, adalah guru saya ketika di Malaysia, tepatnya di Pondok Pesantren Luqmanul Hakim, Johor, Malaysia. Pada saat yang sama, Noordin M Top juga bertindak sebagai guru, yang bersama-sama dengan Abu Wildan selama kurang lebih tiga sampai empat tahun. Dalam kesaksiannya Abu Wildan menegaskan, ”terjadi ketidaksefahaman antara Noordin M Top dengan M Jibriel.”
3. Saksi Ahli Forensik Digital Polri, Alexander :


 

Salah satu alat bukti yang diajukan jaksa, kaitannya dengan tuduhan menyembunyikan info teroris dan upaya mencari dana bantuan, berupa Email. Isi email tersebut juga tidak bisa dipastikan makna dan maksudnya. Selain itu, saya yakin bahwa email tersebut (prince_of_diary) sejak tahun 2007 tidak pernah lagi dipergunakan, sehingga email tersebut bisa saja disusupi seseorang dan direkayasa isinya.
Dalam sidang ini terbukti dan terkuak bahwa saksi ahli forensik digital tersebut, tidak tahu dan tidak dapat menunjukkan isi email yang menjadi alat bukti tuduhan jaksa penuntut umum (JPU) kepada saya. Padahal email atau isi email (rekayasa) itulah yang menjadi salah satu alat bukti JPU untuk menjerat saya.


Bahkan Alexander, saksi ahli forensik digital polri tergagap dan tidak bisa menjawab ketika kuasa hukum saya memintanya untuk menunjukkan isi email yang didakwakan JPU kepada terdakwa. Alexander menjawab bahwa dirinya tidak mengetahui isi dari email tersebut dan tidak mengetahui keberadaan email tersebut, karena tugasnya hanya meng’kloning’ hard disk dari CPU milik Ar Rahmah Media yang disita penyidik.


 Selain itu, saksi ahli forensik digital polri ini juga menjawab bahwa email seseorang itu bisa di hack atau disusupi seseorang yang memang ahli melakukannya. Dengan demikian, email seseorang bisa digunakan dan disalahgunakan oleh siapa pun yang memang memiliki maksud tidak baik.
Saksi ahli bidang digital forensik tidak dapat memberikan bukti kongkrit email yang menjadi alat bukti JPU untuk menjerat saya. Saksi ahli ini juga berpendapat bahwa email seseorang bisa di hack atau disusupi dengan maksud tertentu. Hal ini sesuai dengan keterangan saya bahwa saya sudah tidak

pernah lagi menggunakan email prince_of_diary sejak tahun 2007. Jadi bagaimana bisa email itu kemudian dibuka dan dituduhkan telah saya pergunakan pada tanggal 23 Agustus 2008 ?
4. Saksi Ahli Hukum Polri, Khairul Huda :


Tentang masalah memberikan bantuan yang terdapat di UU Terorisme Pasal 13. Saksi ahli, Choirul Huda menyampaikan bahwa arti bantuan disini sangat luas dan tidak diberikan penjelasan detail tentang arti dan makna bantuan tersebut, dengan demikian harus meminta bantuan penjelasan ke Pasal 56 KUHAP. Intinya, bantuan itu adalah apabila dengan sengaja memberikan bantuan dan membuat kemudahan.


 

Menurut Choirul Huda, sebagai saksi ahli sekaligus staf ahli polri bahwa dirinya tidak dalam kapasitas untuk menilai fakta-fakta dakwaan yang disampaikan JPU kepada saya. Choirul Huda hanya menyampaikan bahwa dirinya hanya bisa menilai secara normatif, apa yang dimaksud dengan bantuan, menyembunyikan informasi, dan tentang pemalsuan identitas.
Saksi ahli bidang hukum ini juga tidak bisa memberikan tafsiran tentang isi email yang dianggap sebagai email saya kepada adik saya di Mekkah, karena bahasanya dia tidak faham dan penuh dengan simbol-simbol dan istilah. Tentang tidak dirincinya arti dan makna ‘bantuan’ di Pasal 13 UU Terorisme menurut Choirul Huda akhirnya dikembalikan kepada keyakinan hakim.


Fakta dipersidangan, baik saksi ahli bidang hukum maupun forensik, secara tegas mengatakan bahwa penafsiran memberikan bantuan di Pasal 13 UU Terorisme sangat luas dan tidak ada penjelasan detail. Berdasarkan keterang kedua saksi ahli yang tidak mendukung tuduhan JPU, saya khawatir ketika membuat surat dakwaan JPU dalam kondisi heng sehingga alat bukti yang dikemukakan tidak relevan dengan tuduhan.


5. Saksi Ahli Bahasa, Nasrullah Fauzi :
JPU menghadirkan seorang saksi ahli bahasa (Malaysia) untuk mengungkap isi email yang dituduhkan dibuat oleh saya. Faktanya, saksi ahli bahasa Nasrullah Fauzi menyatakan bahwa dirinya hanya menerjemahkan teks yang disodorkan kepadanya oleh penyidik, bukan menerjemahkan sebuah email! Lalu, mana bukti outentik atau kongkritnya email tersebut ?
Sejak awal, Nasrullah Fauzi sudah sangsi dan menyatakan bahwa dirinya tidak bisa memastikan apakah si penulis email itu sudah lama berada di Malaysia atau baru. Hal ini dikarenakan isi atau tulisan di email tersebut bercampur baur, ada bahasa Arab, bahasa Malaysia, bahasa Indonesia, bahkan bahasa gaulnya juga ada. Jadi semua serba tidak jelas ungkapnya.


Tuduhan jaksa terdengar menggelikan, terutama ketika Kuasa hukum saya, Hariadi Nasution SH, mencecar saksi ahli bahasa ini dengan pertanyaan, apakah saksi ahli bisa menyimpulkan keseluruhan makna email dakwaan yang dimaksud yang di dalamnya terdapat bahasa yang campur aduk tersebut? Saksi ahli tampak bingung, lama terdiam, dan akhirnya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Ketika ditanyakan oleh hakim anggota, Syamsuddin, apakah dia menerjemahkan isi email itu dalam bentuk email yang ditampilkan di komputer, atau hanya menerjemahkan teks tertulis saja. Awalnya saksi ahli bahasa ini hanya menjawab bahwa dirinya tidak mengetahui  teks dari mana, dan akhirnya

menegaskan bahwa dirinya hanya diminta oleh penyidik untuk datang jauh-jauh dari Malaysia, hanya untuk menerjemahkan sebuah teks yang diduga sebuah email milik terdakwa. Subhanallah!
6. Saksi Fadly: 
Saksi Fadly, web master arrahmah.com. Dalam kesaksiannya Fadly menjelaskan bahwa sebagai pimpinan dan pemilik Ar Rahmah Media saya selalu meminta dirinya untuk memposting berita-berita jihad dan dunia Islam. Tugas utama Fadly adalah maintenance situs berita dunia Islam dan jihad arrahmah.com.


Fadly membenarkan peryataan jaksa bahwa saya yang meminta kepada dirinya untuk memposting rilis Tandzim Al Qaeda Indonesia yang terdapat di media Islam Al Busro. Hal ini dikarenakan situs arrahmah.com memang situs berita yang selalu menginformasikan berita-berita dunia Islam dan jihad. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah arrahmah.com bukan yang pertama kali memposting peryataan atau rilis Tandzim Al Qaeda Indonesia tersebut, melainkan sudah ada beberapa situs berita yang juga telah mempostingnya. Hal ini menggugurkan dakwaan bahwa arrahmah.com adalah yang pertama kali memposting rilis tersebut.


Dengan demikian, penayangan rilis Tandzim Al Qaeda Indonesia oleh arrahmah.com menjadi dakwaan JPU yang sangat tidak masuk akal. Hal ini dikarenakan arrahmah.com adalah sebuah situs berita yang tentu saja akan memposting berita-berita terbaru, hangat, dan memiliki nilai berita yang tinggi.
Begitu pula dengan tuduhan JPU tentang chating yang katanya pernah saya lakukan dengan menggunakan ID atau nama Pendeta. Adalah mustahil bagi saya untuk chating sebagaimana yang dituduhkan, karena saya seorang muslim. Saya khan bukan orang Kristen.”
Tuduhan Kedua: Jaksa menuduh saya memalsukan identitas (KTP dan Passport) yang melanggar pasal 266 KUHP.


Memang benar, saya menggunakan passpor yang namanya berbeda dengan nama saya. Jika hal ini dianggap menyalahi UU keemigrasian, saya tidak bisa mengelak. Akan tetapi, perlu saya tegaskan bahwa untuk perbuatan ini sama sekali tidak ada maksud maupun motivasi negatif. Proses pembuatan passpor dan kepergian umroh saya sangatlah jelas dan seluruhnya memakai berkas asli. Oleh karena itu, kesalahan tidak bisa dibebankan pada saya sendiri, melainkan juga kesalahan pembuat passpor, seperti dinyatakan para saksi dalam kesaksian mereka di depan majelis hakim. Berikut penjelasannya:
7. Saksi Agif Rohma:


Belum puas dengan kebodohan dakwaannya, JPU menghadirkan satu orang saksi, yakni Afif Rochma Dani, karyawan di PT Raudhah Amani Wisata (PT Ramani), perusahaan Biro Umroh dan Haji. Tidak banyak hal yang disampaikan oleh saksi dari PT Ramani ini, kecuali kronologis pemesanan tiket hingga pengurusan visa untuk keberangkatan saya berangkat umroh, awal Agustus 2008. Saksi yang sebelumnya tidak mengenal saya ini menyatakan bahwa di awal, tiket dipesan atas nama saya, yakni  M Jibriel dan kemudian berubah menjadi atau atas nama M Ricky Ardhan.

Adapun mengapa saya menggunakan nama M Ricky Ardhan, semata-mata untuk memanfaatkan momentum untuk berangkat umrah bersama keluarga. Namun, passport yang dibuat atas nama  saya sendiri belum juga selesai dibuat oleh seorang calo yang sudah saya bayar.


Tiba-tiba, dua hari kemudian, tanpa sepengetahuan saya, calo tersebut telah membuatkan sebuah nama dan paspor lain yang siap untuk dipakai. Karena sudah terdesak oleh waktu, dan karena sudah membayar mahal, yakni 9 juta rupiah untuk sebuah passpor, maka tanpa berfikir panjang saya langsung berangkat menggunakan nama dan passpor tersebut.


 Ini berarti bukan saya yang memalsukan, tetapi ada orang lain yang memang menghendaki hal tersebut berlaku kepada diri saya. Dan  saya tegaskan kepada mejelis hakim dengan sebenar-benarnya bahwa sedari awalnya saya tidak pernah berniat memalsukan paspor karena memang perkara ini terlarang dari hukum syari’ah dan hukum negara. Sekiranya saya ada niat, pasti nama orang tua saya di kartu keluarga (KK) saya palsukan, tetapi kenyataannya tidak berlaku. Barangkali inilah perkara penting yang sangat perlu di kritisi oleh majelis hakim sebelum menetapkan dan menjatuhkan vonis kepada saya. Sekiranya JPU melakukan perkara yang benar dan jujur yaitu dengan mengecek secara seksama dan memanggil serta menghadirkan calo yang membuat paspor tersebut yaitu Rita Punjab, sudah pasti JPU tidak berlaku dzalim kepad saya dengan tuntutan  yang tidak wajar, sedangkan si calo yang memalsukan tidak dapat dihadirkan dengan bebarbagai alasan dan tidak pula dia diadili, ada rekayasa apa dibalik ini?


 

Segala keterangan ini bukan mengada-ada, tapi diperkuat pula dengan keterangan saksi agen biro jasa saudara Helmi Hamzah, yang menyatakan, bahwa semua berkas yang diprosesnya asli dan untuk kebutuhan umroh. "Saya tahunya semua berkas asli. Saya serahkan tanggal 26 (Agustus 2008) dengan kebutuhan untuk Umrah,” tegasnya.


Dalam perjalanan umrah saya bertemu dengan seseorang yang memperkenalkan dirinya bernama Muhammad. Saya tidak pernah merencanakan untuk umroh bersama-sama dengan Saefuddin Zuhri, bahkan saya tidak tahu bahwa teman perjalanan umroh saya adalah Saefuddin Zuhri, karena dia mengenalkan dirinya ketika itu dengan nama Muhammad, yang teryata di kemudian hari, menurut jaksa, dia adalah Saefuddin Zuhri.


Begitupun, saya tidak pulang bersama-sama Saefuddin Zuhri, dan tidak juga pula pulang bersama Ali Khalewai (yang sebelumnya dituduhkan sebagai penyandang dana pengeboman JW Marriot bersama saya). Tetapi saya pulang sendiri!
Berdasarkan semua ini, baik berdasarkan alat bukti, keterangan saksi, maupun bukti petunjuk berupa email, tidak satupun mendukung atau memperkuat tuduhan JPU. Karena itu, JPU telah menzalimi saya, dan membuat tuduhan dusta berdasarkan hal-hal dan perbuatan yang tidak pernah saya lakukan sama sekali.


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati


c. Kezaliman Tuntutan Jaksa
Jaksa Penuntut Umum, akhirnya mengajukan tuntutan 7 tahun penjara untuk menghukum saya. Aduhai zalimnya jaksa penuntut umum yang kelihatannya rajin shalat itu, hampir-hampir akal sehat dan nuraninya tidak berfungsi memahami kebenaran fakta yang berlaku. Seakan-akan tidak bergeming apapun suara dan teriakan yang ditujukan kepadanya. Dia berkata aku betanggung jawab atas perbuatanku dunia akhirat. Data palsu yang diberikan oleh Densus 88 yang menjadi dasar tuduhannya kepadaku dinilainya sebagai kebenaran sejati sehingga tidak memerlukan koreksi. Kalau setiap Jaksa sikapnya seperti yang Anda perlihatkan sekarang, wajar jika “Negara hukum Indonesia”, segera setelah ini akan berubah menjadi “Negara hukuman”.


 Anda mengatakan bahwa perbuatan yang saya lakukan dapat menimbulkan kerugian Negara, maka saya ingin mengatakan kepada Anda sebagai Jaksa Penutut Umum (JPU) :
1. Dapatkah Anda menunjukkan bukti dan menjelaskan kepada saya apa bentuk kerugian yang dialami oleh pemerintah atau negara karena berbuatan saya? Kemudian bandingkan dengan kerugian kasus Bank Century, adakah pelakunya ditangkap, ditahan dan diadili seperti saya ?
2. Jika Anda tidak dapat menunjukkan bukti dengan data ilmiah atau undang-undang positif yang Anda jadikan kitab suci, maka saya minta kepada Anda untuk mencabut tuduhan dan tuntutan Anda, kembalikan nama baik saya yang telah Anda cemarkan, kembalikan hak dan harta milik saya yang sudah Anda rampas, dan nyatakan bahwa proses penangkapan, penahanan dan pengadilan ini batal demi hukum yang berlaku yang Anda imani selama ini. Minta maaflah Anda secara terbuka dan bertaubatlah kepada Allah Swt secepatnya karena Anda telah melakukan perbuatan zalim dan melampaui batas yang menyebabkan Anda diseret ke dalam neraka. Allah Maha Pengampun dan berjanji untuk mengampuni segala dosa dan kesalahan hambaNya. DIA  berfirman :


ﭽ ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ    ﮭ  ﮮﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ     ﯔ       ﯕﯖ  ﯗ     ﯘ   ﯙ          ﯚ          ﯛ  ﭼ
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar, 39 : 53)


3. Jika Anda tetap pada pendirian Anda dan menyatakan saya bersalah dengan bukti palsu yang Anda kemukakan, Anda tidak mau bergeser dari tuduhan Anda karena Anda mendapat tekanan dari pihak tertentu, atau Anda malu wibawa JPU akan sirna jika mengaku salah, atau Anda takut jabatan Anda dicopot dan rezeki Anda akan hilang, maka dengarlah dan ketahuilah bahwa hidup ini adalah sebentar. Sedang akhirat itu kekal abadi. Anda mempunyai istri dan anak-anak dan akan mempunyai cucu. Saya dan keluarga saya akan menuntut Anda dan keluarga Anda dari mahkamah dunia ini. Jika saya tidak mampu, maka saya dan keluarga saya akan menuntut Anda di hadapan mahkamah Ilahi. Persoalan kita tidak akan berhenti di sini (di dunia) dan akan berlanjut sampai hari kiamat. Dan Allah-lah yang akan memberikan keputusan yang paling adil. Allah Swt berfirman :


ﭽ ﮆ  ﮇ   ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ   ﮑ  ﭼ
“Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS. As Sajadah, 32 : 25)
 Orang yang berlaku zalim kepada orang lain tanpa bukti kesalahan yang diperbuatnya, lalu menjatuhkan hukuman yang tidak benar, maka bersiaplah menerima ancaman azab Allah Swt di dunia maupun di akhirat.
Firman Allah Swt :
ﭽ ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ   ﯠ  ﯡ  ﯢﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﭼ
“Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. Al Ankabut, 29: 4)
Dan firman Nya lagi:
ﭽ ﮁ  ﮂ  ﮃ   ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ   ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ   ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ   ﭼ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya (melakukan perbuatan yang dibenci Allah dan Rasul Nya), Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab, 33: 57-58)
Inilah pernyataan permusuhanku dengan orang-orang zalim seperti Anda dan orang-orang yang serupa dengan Anda, aku tidak berdaya melainkan dengan kekuatan dari Allah Swt, aku dan keluargaku dan sahabat-sahabatku akan berdo’a kepada-Nya semata, dan aku yakin dengan janji Rasulullah Saw dengan sabdanya:


“Takutlah kamu terhadap do’a orang-orang yang terzalimi, sebab antara mereka dengan Allah tidak terdapat hijab ( penghalang ).” (HR. Bukhari-Muslim)
Mengakhiri pledoi ini, saya ingin menyampaikan beberapa kalimat  kepada majelis  hakim yang dihormati semoga menjadi ibrah dan pengajaran.


1. Tegakkanlah keadilan yang seadil-adilnya tanpa terpengaruh oleh intervensi dari kuasa elit politik yang ada di atasnya. Berusahalah menepati firman Allah Swt supaya berlaku adil. Firman Allah Swt :
ﭽ ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ        ﮬ  ﮭ   ﮮ  ﮯﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝﯞ  ﯟ  ﯠﯡ  ﯢ   ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﭼ
 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah, 5 : 8)
2. Hendaklah hakim bersedia memberi pertolongan kepada sesama muslim dan senantiasa bersedia menegakkan kebenaran kepada semua pihak, apakah pihak yang menuduh atau yang dituduh, pihak yang dianiaya atau yang menganiaya. Rasulullah Saw bersabda :
Tolonglah saudaramu yang menzalimi atau yang dizalimi. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, telah menjadi kewajiban kami menolong orang yang terzalimi, tetapi bagaimana caranya kami menolong orang zalim? “Nabi bersabda :”Tolonglah dia dengan mencegahnya menzalimi (menindas) orang lain.” (HR. Bukhari)

 


3. Hendaklah mejelis  hakim berhati-hati dalam memutuskan hukum dan haruslah berdasarkan kebenaran. Jika tidak resikonya amat dahsyat. Renungkan Sabda Rasulullah Saw:
“Al Qadhi atau Hakim itu ada tiga, dua masuk neraka dan satu masuk surga. Yang pertama hakim yang mengetahui kebenaran dan memutuskan hukum dengannya berada di dalam sorga. Kedua hakim yang jahil (bodoh dengan kebenaran) dan memutuskan hukum dengan kebodohan, maka ia berada dalam neraka. Ketiga hakim yang mengetahui kebenaran, kemudian memutuskan hukum dengan hawa nafsunya, maka ia juga dalam neraka.” (HR Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmizi, Ibn Majah dan Al Hakim. Hadis shahih dalam kitab jami’us shagi, no: 6188)


Majelis Hakim dan Hadirin yang kami Hormati
Menutup tazkiroh ini, saya nukilkan sebuah nasehat yang berharga dari Umar bin Khattab kepada Hakimnya, Abu Musa al-Asy’ari, mudah-mudahan para Hakim dalam sidang mejelis ini dapat mengambil ibroh dari padanya.
Kepada para Hakimnya ini, Umar ra. Menulis surat yang isinya antara lain :
“Jadilah contoh teladan di kalangan orang banyak dalam penampilan dirimu, dalam majelis mu dan dalam peradilan yang kamu lakukan, sehingga orang-orang terkemuka tidak mendapat peluang dan keinginan untuk memperalat mu melalui ketidak-adilan mu ; sedang orang yang lemah tidak berputus asa untuk memperoleh keadilan dari sikap mu”.


Semoga majelis hakim dapat memahami semua yang tersirat dari bahasa yang tersurat yang diucapkan ini. Saya meyakini benar bahwa majelis hakim sedang berada di tempat yang mampu untuk melaksanakan perintah Nabi Saw di atas. Jika peluang seperti ini tidak digunakan, maka majelis hakim akan merasakan kekecewaan kelak di hari kiamat. Rasulullah Saw bersabda :
Tiada seorang muslim yang membiarkan muslim lainnya (tanpa diberi pertolongan) saat kehormatannya dirampas dan haraga dirinya dirusak kecuali Allah akan membiarkannya (tidak mempedulikannya) di saat dia membutuhkan pertolonganNya. (HR. Abu Dawud)


Dan Sabdanya lagi:
Barangsiapa yang dihadapannya ada seorang muslim yang dihinakan, akan tetapi dia tidak menolongnya, padahal dia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakannya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. (HR. Ahmad)
Saya berharap, suara keadilan dimenangkan di ruang pengadilan ini. Karena itu saya berharap pada majelis hakim:
Pertama, agar membebaskan saya dari jerat dan tuduhan jaksa, kemudian menjatuhan vonis hukum yang adil dan ringan di atas yang paling ringan.
Kedua, mengembalikan segala fasilitas Ar Rahmah Media yang disita secara zalim oleh Densus 88 berupa : sebuah lap top, 4 buah CPU, dan berkas-berkas kantor lainnya.
Seluruh inventaris kantor Ar Rahmah Media tersebut sangat dibutuhkan oleh staf dan karyawan saya di Ar Rahmah Media. Oleh karena itu setelah selesai persidangn kali ini saya berharap barang-barang itu dikembalikan kepada pemiliknya, karena haram hukumnya menurut hukum Islam merampas dan mengambil hak milik orang lain tanpa kebenaran.


Permohonan dan Do’a
Kepada Allah-lah tempat berserah diri, mengharap bantuan dan pertolongan-Nya. Allahumma Ya Allah, kepada-Mu lah aku mengadukan seluruh urusanku, nasibku, keluargaku semuanya berada dalam tangan-Mu. Aku mohon kepadamu, mudahkan segala urusanku, segala yang menyusahkan akan menjadi mudah jika Engkau menghendaki.


 آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ .  اللَّهُمَّ انصُرِ المُجَاهِدِين فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَان 3x  اللّهُمَّ أَعِزَّ الاسلامَ والمسلمين اللهم انْصُرِ الاسلام والمسلمين ، اللّهُمَّ انْصُرْ اِخْوانَناَ مِنَ المستضعفين والمظلومين، اللّهُمَّ انصر اخواننا من المجاهدين في كل مكان وفي كل زمان ، اللّهُمَّ انْصُرْهُمْ على عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ ، وَأَهْلِكِ الكفرةَ والكافرين والشركَ والمشركين والنفاقَ والمنافقين والظُلْمَ والظالمين وَدَمِّرْ أَعْداءَكَ أَعْدَاءَ الدِين مِنَ اليهودِ الغاصِبِينَ والغادِرِين وَالنصاري المستعمِرِين والمستكبرين ، اللهم زَلْزِلِ الأرض مِنْ تَحْتِ أقدامِهم وَاخْرِجْهُم منه أَذِلَّةً صاغِرِين ، يا رب العالمين


"Ya Allah, baguskanlah untukku agamaku yang merupakan pemelihara urusanku, baguskanlah pula untukku duniaku yang menjadi tempat penghidupanku, dan baguskanlah akhiratku yang padanyalah tempat kembaliku nanti, dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan untukku dalam segala kebaikan, serta jadikanlah kematian itu sebagai pelepas bagiku dari segala keburukan."
”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon pada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon pada-Mu ampunan dan keselamatan pada urusan agama dan duniaku, dan pada urusan keluarga dan hartaku."


 “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."


“Ya Allah Ya Tuhan Kami, muliakanlah Islam dan orang-orang Islam, Ya Allah Ya Tuhan Kami, menangkanlah Islam dan orang-orang Islam. Ya Allah Ya Tuhan kami, menangkanlah saudara-saudara kami di kalangan golongan yang lemah dan dizalimi, Ya Allah Ya Tuhan Kami, menangkanlah saudara-saudara kami di kalangan pejuang-pejuang di seluruh tempat dan pada setiap masa, Ya Allah Ya Tuhan Kami, menangkanlah mereka menentang musuh- musuh Mu dan musuh-musuh mereka, dan hancurkanlah kekafiran dan orang-orang kafir, kesyirikan dan orang-orang yang syirik, kemunafikan dan orang-orang munafik, kezaliman dan orang-orang zalim, dan musnahkanlah musuh-musuhMu dan musuh-musuh agamamu dikalangan orang Yahudi pencabul dan pengkhianat, dan golongan nasrani penjajah dan penyombong. Ya Allah Ya Tuhan Kami, Engkau gegarkanlah bumi ini di bawah tumit-tumit mereka, dan campakkanlah mereka ke lembah kehinaan dan kekerdilan” Allahumma Amien… Walhamdulillahirobbil‘alamiin…
Hormat Kami,

Muhammad Jibriel Abdul Rahman

 

 


 

 

 

 

 


 

 

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: