SURAT KUASA BUKAN ALAT BUKTI WARIS

  • PDF
Pak Hotma…

Ayah saya bernama Bapak Winarno memiliki tiga orang anak yaitu Saya (Budiman), Bp. Wage dan Bp Slamat. Ayah saya telah memberikan dua toko di Pasar Senen, daerah Jakarta Pusat dengan bukti surat kuasa yang ditanda tangani oleh Bapak Winano dan Saya di atas kertas  bermaterai. Adapun isi surat tersebut yaitu, bahwa Bapak Winarno telah menyerahkan sepenuhnya kedua toko tersebut untuk dikelola oleh Saya. Sedangkan untuk adik-adik saya Bp. Wage dan Bp. Slamet masing-masing telah mendapat masing-masing sebidang tanah yang dibuat dengan akta notaris. Yang menjadi pertanyaan saya yaitu :
 
1.    Apakah surat kuasa yang telah ditanda tangani oleh Bapak Winarno (ayah saya) dan Saya itu sah menurut hukum ?
2.    Jika Ayah saya  meninggal, apakah surat kuasa dan hak-hak atas tanah tersebut itu bisa beralih  kepada saya dan anak saya sebagai ahli waris ?

Terimakasih.
Dari
Bapak B di KPG
 
 
Jawaban:

Bapak B di KPG,

1.    Pada prinsipnya, sepanjang surat kuasa itu dibuat dibuat untuk melaksanakan sesuatu urusan,  tanpa paksaan, tanpa tipu muslihat, maka surat kuasa itu sah secara hukum.hal  ini sesuai dengan Pasal 1792 kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang mengatakan: “…Pemberian kuasa ialah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa….”, dan Penerima kuasa tidak boleh bertindak melebihi apa yang dikuasakan kepadanya, hal ini sesuai dengan Pasal 1797 kitab Undang-undang Hukum Perdat, yang mengatakan: “…..Penerima kuasa tidak boleh melakukan apa pun yang melampaui kuasanya, kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu perkara secara damai damai, tidak mengandung hak untuk menggantungkan penyelesaian perkara pada keputusan wasit…..”

    
 Adapun pengertian Pemberian Kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan (Pasal 1792 KUHPerdata). Dalam permasalahan ini,Bapak dengan adanyatentang  pemberian kuasa ini, artinya belumtidak berarti telah  terjadi perpindahan kepemilikan/nhak  atas toko-toko tersebut dari Bapak Winarno kepada Bapak, Bapak hanya di beri kuasa untuk mengurus/mengelola toko-toko tersebut  (untuk lebih jelasnya maka Bapak dapat melihat kewenangan Bapak tersebut sebagaimana yang  tertera dalam surat kuasa tersebut). Dengan deikian tindakan Bapak hanya sebatas apa yang tertera di adalam surat  kuasa.
 
Dengan demikian, kepemilikan atas toko tersebut masih tetap berada ditangan Bapak Winarno.
2.     Selanjutnya untuk pertanyaan kedua, bila Bapak Winarno meninggal dunia, maka menurut UU (Pasal 1813 KUHPerdata),maka  pemberian kuasa itu telah berakhir kepada Bapak dan kepemilikan atas toko-toko tersebut tidak dapat dialihkan kepada Bapak maupun kepada  anak-anak Bapak, hal ini sesuai dengan Pasal 1813 kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang mengatakan: “….Pemberian kuasa berakhir dengan penarikan kembali kuasa penerima kuasa; dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh penerima kuasa; dengan meninggalnya, pengampuan atau pailitnya, baik pemberi kuasa maupun penerima kuasa, dengan kawinnya perempuan yang memberikan atau menerima kuasa….”
 
 
2.. Akibat lainnya adalah toko-toko itu menjadi harta warisan. Bersama dan   Tentu hak kepemilikannya jatuh ketangan para ahli waris yatu Bapak sendiri, Bp. Wage dan Bp. Slamat. Dengan demikian bila masih dimungkinkan, diusulkan agar surat kuasa kepada Bapak itu diganti menjadi AKTA HIBAH yang dibuat dihadapan notaris, agar toko-toko itu menjadi milik Bapak sepenuhnya.

Demikian semoga bermanfaat.




Baca juga: