Pembelaan Pelaku Sindrom Baby Bloes: Pelaku Tidak Sadar Melakukan Pembunuhan

  • PDF
PEMBELAAN

KUASA HUKUM
Terdakwa SUNARI BINTI WARSONO
Perkara Pidana
Nomor: 1416/PID.B/2010/PN.JAK. SEL.





Terhadap
Surat Tuntutan Penuntut Umum
Nomor.Reg.Perk : PDM-1374/JKTSL/10/2010
Atas Nama
Terdakwa SUNARI BINTI WARSONO



Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
Jakarta, 03 Januari 2011




Yang Mulia Ketua dan Anggota Majelis Hakim
Perkara No. 1416/Pid.B/2010/Pn. Jkt. Sel.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Kami Penasihat Hukum Terdakwa Sunari mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT dan terima kasih serta apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Majelis Hakim atas proses persidangan yang berjalan dengan penuh bijaksana dan kesabaran sehingga proses persidangan ini bisa berjalan dengan baik.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Sdra. Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang juga telah menjadikan persidangan ini berjalan dengan lancar dan tertib.

Setelah melalui tahap Pembacaan Dakwaan, Pemeriksaan Pembuktian, dan Tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, maka kini saatnya kami Penasehat Hukum Terdakwa Sunari menyampikan Pembelaannya. Pembelaan ini bukanlah suatu tindakan yang asal melaksanakan formil peradilan atau menjalankan kewajiban hukum sebagai kuasa hukum Terdakwa semata, sehingga apapaun faktanya terkesan membela habis-habisan untuk terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan Jaksa penuntut umum.

Namun melalui Pembelaan ini, kami juga ingin menyampikan pesan keadilan kepada Majelis Hakim dan semua pihak, Jaksa Penuntut Umum, kami sendiri Penasehat Hukum, keluarga korban sekaligus pelaku, dan juga masyarakat semuanya, agar kita melihat dengan jernih suatu permasalahan hukum, tanpa mencari-cari kesalahan bahkan membebankan tanggungjawab itu hanya kepada seseorang yang diposisikan sebagai pesakitan atau sebagai Terdakwa.

Sebagaimana kita ketahui, Terdakwa adalah seorang ibu, yang didakwa membunuh anaknya sendiri yang telah dikandungnya selama 9 bulan, dilahirkan dengan rasa sakit, dengan biaya yang dikumpulkan selama berbulan-bulan dari hasil jualan ketupat sayur yang juga tidak cukup untuk biaya hidunya sehari-hari, saksinya adalah suaminya, ayah dari si bayi, saksinya pula adalah kedua anaknya yang merupakan kakak dari si bayi (korban).

Perkara ini sekalipun perkara dalam ranah hukum publik/pidana namun tidak bisa dipungkiri adalah peradilan dalam satu keluarga, di mana korban dan pelakunya adalah mereka juga, kelurga mereka juga.

Majelis Hakim yang mulia
Jaksa penuntut umum yang kami hormati,

Melalui Dakwannya secara alternatif, Penuntut Umum mendakwa Terdakwa telah melakukan perbuatan pidana dengan dakwaan :

Pertama, Melanggar Pasal 44 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga, atau

Kedua, Melanggar pasal 80 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, atau

Ketiga, Melanggar Pasal 338 KUHP.


Dan melalui Tuntutannya Terdakwa di tuntut selama  5 Tahun Penjara karena dianggap telah terbukti melakukan perbuatan sebagaimana Dakwaan Pertama yakni Melanggar Pasal 44 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga.


Pembelaan

Berdasar pada Dakwaan, pemeriksaan saksi dan barang bukti, kami Penasehat Hukum Terdakwa Sunari berkesimpulan dan menyampaikan pembelaan sebagai berikut :

1.    Terdakwa memang benar telah melakukan perbuatan kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan meninggalnya korban.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan barang bukti yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa benar korban yang bernama Aulia Yulianti telah meninggal dunia karena perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dengan alat yang berupa pisau dapur. Suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya.

2.    Namun Terdakwa tidak bisa dipersalahkan dan dipidana, karena ketika perbuatan itu dilakukan Terdakwa berada dalam ketidaknormalan jiwanya/mengalami Depresi/mengalami Gangguan Kejiwaan.

Bahwa Dr. HENNY RIANA, Sp. Kj. Sebagai saksi ahli yang dihadirkan oleh Penyidik dan Penuntut Umum, dalam keterangannya di bawah sumpah menerangkan sebagai berikut :

•    TerdakwaNy. Sunari mengalami Depresi Pasca Lahir (dengan simbol penyakit F53.0).
•    Depresi adalah bagian dari Gangguan Jiwa;
•    Gila sudah tidak dipergunakan lagi karena faktor stigma masyarakat yang kurang baik.
•    Dalam ilmu kesehatan jiwa/kejiwaan tidak dikenal isilah sehat atau sakit, yang menjadi ukuran adalah normal atau mengalami gangguan kejiwaan.
•    Depresi sangat terpengaruh oleh keadaan objek yang menjadi sebab terjadinya depresi dan faktor-faktor luar dalam dirinya, seperti fakor ekonomi, relasi sosial kemasyarakatan.
•    Dalam kasus Depresi pasca melahirkan termasuk dalam kasus Ny. Sunari, faktor si bayi (korban), keberadaan si bayi sangat meningkatkan tekanan kejiwaan terdakwa, hal ini sangat kelihatan dari ketika di wawancarai berkaitan dengan si bayi, terdakwa cenderung menangis, murung, dan diam.
•    Itu artinya tingkat tekanan kejiwaan ketika si korban/sibayi masih hidp jauh lebh tinggi dibanding dengan ketika si bayi sudah tiada.
•    Kondisi kejiwaan Terakdwa sangat fluktuatif.
•    Faktor luar diri Ny. Sunari juga sangat berpengaruh, yakni kecapaian ketika hanya sendirian mengurus bayi dari pagi hingga pagi lagi, sementara kondisi badan masih sakit karena pasca melahirkan melalui bedah cesar.
•    Faktor ekonomi, juga hubungan dengan suami/kedekatan suami, juga sangat berpengaruh terhadap penderita Depresi pasca melahirkan.
•    Kesimpulannya adalah Ny Sunari mengalami Deprsi pasca lahir (F 53.0), terhadap tindakan kekerasan ini terperiksa (terdakwa) menunjukkan unsur mampu bertanggngjawab sebagian.
•    Bertanggungjawab sebagian, saksi tidak bisa mendefinisikan, sebagian itu berapa persen,  10, 20, 50, atau 90 persen, saksi tidak bisa mendefinisikan.
•    Depresi pasca lahir memang seringkali fluktuatif, kadang kelihatan normal, kadang murung dan mengalami ganguan yang parah, tapi yang jelas ketika objek peyebab depresi itu sudah tidak ada (si bayi), tingkat depresinya pasti berkurang.
 
Saksi Suami (Sugino) dan Kedua Anaknya (Rini Setyowati dan Ari Dwi Priyanto) sebagai keluarga korban sekaligus keluarga Pelaku/Terdakwa, menerangkan dibawah sumpah :

•    Terdakwa adalah orang yang baik, istri yang baik dan ibu yang baik dari anak-anaknya semua.
•    Terdakwa juga orang yang mengasuh korban layaknya anak-anak yang lain, merawat penuh dengan kasih sayang.
•    Saksi sangat memaafkan terdakwa, selain karena saksi yakin terdakwa tidak berniat untuk membunuh anak dan adiknya, saksi juga yakin bahwa perbuatan itu diluar kesadarannya.
•    Saksi juga yakin bahwa menghukum terdakwa akan menambah penderitaan bagi Terdakwa, dan saksi sebagai anak yang masih butuh bimbingan dan bantuan dari Ibu (Terdakwa).
•    Sebagai suami, saksi juga merasa peristiwa ini terjadi karena faktor dirinya tidak pernah membantu merawat bayinya yang masih kecil, serta ketidakmampuan ekonomi keluarga.
•    Maka sebagai keluarga korban sekaligus keluarga pelaku, kami memohon kepada Majelsi Hakim tolong bebaskan Ibu kami, juga bebaskan istri kami/ Terdakwa, yang pasti akan lebih baik bagi keluarga kami, masa depan anak-anak/kami.

Berdasarkan pada keterangan tersebut diatas, maka kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa, berkesimpulan bahwa Terdakwa sebenarnya adalah orang yang baik dan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya juga keluarganya, namun karena persoalan gangguan kejiwaannya setelah melahirkan sehingga melakukan perbuatan yang berakibat meninggalnya Aulia Yulianti anak ketiganya yang masih berumur 14 hari, yang Terdakwa sendiri tidak tahu, kenapa bisa melakukan perbuatan tersebut.

Dalam keterangannya, Ahli memang menyatakan bahwa Terdakwa mampu bertanggungjawab sebagian, namun pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab adalah bertanggungjawab sebagian itu seberapa, besar atau kecil nilai kemampuan bertanggungjawab Terdakwa terhadap perbuatannya, ahli tidak bisa menjawab.

Namun yang pasti adalah Terdakwa ketika melakukan perbuatan tersebut berada dalam keadaaan depresi, gangguan jiwa, terganggu akal sehatnya, suatu keadaan dimana seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Sehingga adalah patut berdasarkan pada ketentuan pasal 44 ayat (1) KUHP “ barangsiapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau karena sakit berubah akalnya tidak boleh dihukum” maka Terdakwa patut di bebaskan atau dilepaskan dari segala tuntutan pidana.

Berdasar keterangan Ahli Kejiwaan Dr. Henny Riana Sp. Kj. Tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan pula bahwa sobjek pelaku tindak pidana yakni Ny. Sunari sebagai pemenuhan unsur “barang siapa” tidak terpenuhi dengan sempurna, karena unsur “barang siapa” tersebut tidak bisa dipersalahjkan telah melakukan perbuatan pidana  berupa kekerasan fisik dalam rumah tangga yang mengakibatkan matinya korban, karena ketika perbuatan tersebut dilakukan oleh Terdakwa, Terdakwa berada pada suatu ganguan jiwa/Depresi.

Suatu keadaan dimana terdakwa terganggu pikirannya yang sehat (zieklijke strong der verstandelijke vermogens).  Sehingga pada diri terdakwa tidak terdapat unsur kesalahan (schuld element), sehingga menurut Pasal 44 ayat (1) KUHP terdakwa tidak dapat dihukum. (Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, No. 33.K/Mil/1987, tanggal 27 Februari 1988).

Apalagi jika kita memperhatikan keterangan para saksi, yakni Suami, dan Anak-anak Terdakwa, dimana merekalah sebagai korban yang masih hidup, yang juga menyatakan “kami telah memaafkan, kami menerima dengan baik Ny Sunari serta akan membantu meringankan beban dalam dirinya, tolong bebaskan Ny. Sunari, biarkan kami merajut kehidupan baru, dengan ditahan bukan menjadi lebih baik buat kami, bahkan menjadi lebih buruk bagi kehidupan keluarga kami.”

Hukum sudah seharusnya memperhatikan suara kedilan bagi korban, menjadi solusi dan memberikan harapan yang lebih baik kedepan bagi masyarakat, bahkan terutama korban itu sendiri. Maka demi hukum dengan berdasar pada ketentuan Pasal 44 ayat (1) KUHP, serta kepentingan yang lebih baik kedepan bagi keluarga korban dan Terdakwa, maka Majelis Hakim sudah sepatutnya melepaskan Terdakwa dari segala tuntutan hukum.  



Permohonan

Berdasarkan uraian di atas, maka kami Penasehat hukum Terdakwa Sunari, memohon kepada Majelsi Hakim untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut :

1.    Menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana yang telah didakwakan;

2.    Menyatakan Terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum.

3.    Membebankan biaya perkara pada negara.

Jika majelis hakim berpendapat lain, mohon putusan seadil-adilnya.



Hormat kami,

KUASA HUKUM SUNARI



HERMAWANTO, S.H.                                                  ANDI IRHAMI, S.H.



INDAH SAPTORINI, S.H, M.H.                               B.R. SEMBIRING, S.H.

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy



Baca juga: