APA MANFAAT SURAT WASIAT

  • PDF
{Pak Hotma yang terhormat,}
 
Saya ingin bertanya mengenai surat wasiat, sebab saya mau  ketika saya meninggal nanti tidak ada yang memperebutkan harta yang saya miliki, dan jika saya meninggal nanti, terjadi keributan di antara anak-anak maupun keluarga terdekat saya. 

Walaupun, saat ini saya sudah berumur 70 tahun dan sebenarnya saya masih sehat dan tidak memiliki penyakit kronis.  Yang menjadi pertanyaan saya adalah:

1.    Bagaimana cara membuat surat wasiat sehingga surat tersebut memiliki kekuatan hukum?;

2.    Seberapa besar kekuatan surat wasiat terhadap harta yang saya miliki ketika saya meninggal nanti?

 
Demikian pertanyaan saya. Terimakasih atas kesediaanya menjawab pertanyaan saya.


Bapak T di Jember


Jawaban:

Pak Tanto, di Indonesia, Pengaturan mengenai surat wasiat diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (“KUHPerdata”), yaitu dalam Buku Kedua Bab XIII KUHPerdata berlaku bagi orang-orang di luar pemeluk agama Islam sedangkan bagi pemeluk agama Islam diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (Buku II).  Karena dalam kasus ini Bapak menganut agama Kristen, maka akan dipakai ketentuan yang diatur di dalam KUHPerdata.
 
 
Dalam hukum di Indonesia, wasiat adalah pernyataan dari seseorang mengenai tidak hanya tentang harta tetapi apa yang dikehendakinya terjadi setelah ia meninggal, namun wasiat seperti ini dapat dicabut kembali oleh orang  yang membuatnya.  Pengertian  wasiat  dan pencabutan wasiat itu sendiri diatur dalam ketentuan  Pasal 875 KUHPerdata, yang berbunyi:


“...Adapun yang dinamakan surat wasiat atau testamen ialah suatu akta yang memuat pernyataan seorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia, dan yang olehnya dapat dicabut kembali lagi...”

Agar suatu wasiat memiliki kekuatan di mata hukum, maka surat wasiat tersebut haruslah dibuat dalam suatu akta tertulis, hal ini diatur dalam  Ketentuan Pasal 875 KUHPerdata yang mengatakan: “...Adapun yang dinamakan surat wasiat atau testamen ialah suatu akta...”

Dalam pembuatan akta tersebut, maka Bapak dapat membuat surat wasiat dengan bantuan seorang Notaris, ataupun Bapak dapat membuatnya sendiri dan setelahnya Bapak menyimpannya kepada seorang Notaris.  Setelah Bapak  menyimpannya, Notaris tersebut akan membuat sebuah akta penyimpanan dengan disaksikan oleh dua orang saksi.  Hal ini sebagaimana tersebut dalam ketentuan Pasal 931, 932, dan 938 KUHPerdata.

-    Pasal 931 KUHPerdata, menyebutkan: “...Suatu wasiat hanya boleh dinyatakan, baik dengan akta tertulis sendiri atau olograpis, baik dengan akta umum, baik akta rahasia atau tertutup...”


-    Pasal 938 KUHPerdata, menyatakan: “...Tiap-tiap surat wasiat dengan akta umum harus dibuat di hadapan notaris dengan dihadiri oleh dua orang saksi...”

-    Pasal 932 KUHPerdata , menyebutkan:
1.    Suatu wasiat tertulis sendiri harus seluruhnya ditulis dan ditandatangani oleh si yang mewariskan sendiri.
2.    Surat wasiat yang demikian oleh si yang mewariskan harus disimpan kepada seorang notaris.
3.    Notaris tersebut, dibantu oleh dua orang saksi, wajib segera membuat sebuah akta penyimpanan yang harus ditandatanganinya, bersama-sama dengan si yang mewariskan dan saksi-saksi, akta mana harus ditulis, baik di bawah surat wasiat, jika surat ini dengan terbuka disampaikan kepadanya; dalam hal terakhir ini, di hadapan Notaris dan saksi, si yang mewariskan harus membubuhkan sebuah catatan pada sampulnya, yang menyatakan bahwa sampul itu berisikan surat wasiatnya, catatan mana harus dikuatkan dengan tandatangannya.

 
Menurut Pasal 933 KUHPerdata, baik surat wasiat yang dibuat oleh Notaris maupun yang Bapak buat sendiri dan kemudian disimpan di Notaris memiliki kekuatan yang sama di mata hukum.

Dan bunyi Ketentuan Pasal 933 KUHPerdata, adalah :
“...Surat wasiat tertulis sendiri, setelah ada dalam penyimpanan notaris sesuai dengan pasal yang lalu, adalah sama kuatnya dengan surat wasiat yang diselenggarakan dengan akta umum dan dianggaplah surat itu dibuat pada hari pembuatan akta penyimpanan, dengan tidak usah memperhatikan akan tanggal yang dibubuhkan dalam surat wasiat sendiri...”

 
Demikianlah penjelasan yang dapat saya berikan. Semoga bermanfaat bagi Bapak.




Baca juga: