Pledoi Lengkap Sang Profesor (6-habis)

  • PDF
JPU Melakukan Pembunuhan Karakter
 
JAKARTA [PALUHAKIM.COM] Sepuluh bulan sejak Oktober 2008, Prof Dr Romli SH LLM, merasa telah dizolimi oleh Kejaksaan Agung. Mantan Dirjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Departemen Kehakiman dan HAM yang menjadi terdakwa perkara dugaan korupsi akses fee Sisminbakum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu menilai, tuntutan JPU bukan ingin menemukan kebenaran materiel, melainkan cuma ingin menuntaskan pembunuhan karakter terhadap dirinya.

Hal itu disampaikan Romli dalam pledoi yang dia bacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2 September lalu. Berikut bagian keenam atau bagian terakhir pledoi Romli yang dimuat utuh oleh paluhakim.com:

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Cara JPU menyusun surat penuntutan terhadap saya, menunjukkan bahwa Kejaksaan Agung tidak ada niat untuk menemukan kebenaran materiel dalam menuntut saya. Melainkan sekadar hanya ingin menuntaskan “pembunuhan karakter saya” yang telah dimulai sejak Oktober 2008.

Bahwa dari gaya penyusunan surat tuntutan terhadap saya, Kejaksaan Agung telah menganut teori “Manusia dilahirkan sebagai penjahat” (Men Borned Criminal) atau teori Lembroso, bukan teori keadilan sebagaimana dianut dalam Konstitusi 1945 dan KUHAP serta UU 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Bahwa Kejaksaan Agung dalam menangani perkara saya lebih berkiblat kepada teori Kantianisme yang menghalalkan pembalasan tanpa mempedulikan kemanfaatannya bagi masyarakat luas sehubungan dengan pengabdian saya kepada bangsa dan negara selama ini dan di masa yang akan datang.

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Sikap Kejaksaan Agung itu telah dilakukan terhadap saya sejak di tingkat pemeriksaan penyidikan. Saya telah melaporkan kepada Komnas HAM pada 22 Januari 2009 dan pada 13 Maret 2009, dan tanggal 8 Juni 2009, Komnas HAM telah menyurati Jaksa Agung dan meminta klarifikasi atas dugaan pelanggaran HAM atas nama saya. Akan tetapi sampai saat ini Jaksa Agung tidak menjawab surat Komnas HAM tersebut.

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Di dalam memformulasi surat tuntutannya, Kejaksaan Agung tidak lagi mempertimbangkan kedudukan saya selaku Guru Besar Hukum yang telah berpengalaman 35 tahun lebih dan telah memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara dalam berbagai kesempatan baik di dalam negeri dan di luar negeri.

Kejaksaan Agung bahkan memasukkan keahlian dan pengalaman saya di bidang hukum sebagai hal-hal yang memberatkan dengan kata-kata: “dengan latar belakang akademis yang dimiliki terdakwa seharusnya menjadi panutan dalam penegakan hukum, Namun semuanya itu tidak dilakukan terdakwa.”

Kejaksaan Agung tidak mengetahui atau pura-pura tidak mengetahui bahwa saya telah berpengalaman menjadi Ketua Tim RUU berbagai UU berkaitan dengan penegakan hukum di Republik ini. Selalu konsisten memperjuangkan Pemberantasan korupsi sejak era reformasi, dan menjadi ahli di pihak penegak hukum dalam perkara terorisme peristiwa Bom Bali I, dan perkara pencucian uang.

Juga telah menghasilkan seratus UU, sejak era reformasi sampai sekarang. Termasuk UU 31 Tahun 1999 dan UU 20 Tahun 2001 yang dijadikan dasar hukum JPU untuk menuntut saya saat ini.

 Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Di tengah-tengah musibah yang tengah saya alami ini, Allah SWT telah memperingatkan saya dengan firman-Nya: “Janganlah engkau kecewa dan sedih, karena AKU mengetahui apa-apa yang mereka nyatakan dan apa-apa yang mereka sembunyikan (Surat Yasin Ayat 76). Saya selalu meyakini bahwa Allah Swt akan selalu mengetahui dan memberikan jalan terbaik untuk saya dan keluarga saya.

Penzoliman terhadap diri saya dan keluarga saya selama 5 bulan 5 hari, melalui tangan-tangan kekuasaan yang tidak berperikemanusiaan, telah saya jalani dengan hanya ikhtiar dan takwa kepada Allah SWT. Dan Allah Swt telah memperingati diri saya bahwa, hanya kesabaran yang tiada terkirakan dan tawakal serta amanah yang dapat mengalahkan kelaliman; dan hanya kebesaran-Nya lah yang dapat menentukan nasib manusia bukanlah oleh kekuasaan yang lalim itu. Dan semua itu telah menjadi rahasia Allah SWT.

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Keberhasilan perjuangan saya, membenahi kantor Ditjen AHU ketika itu adalah disebabkan, pertama, dukungan dan kebersamaan sikap antara saya dan isteri dalam mengemban tugas negara. Kedua, adanya komitmen saya dan isteri untuk tidak melakukan perbuatan tercela dan memberikan contoh serta teladan kepada pegawai Ditjen AHU dan BPHN.

Komitmen itu bahkan diterapkan ketika isteri saya yang kandidat notaris, di mana saya tidak angkat isteri saya sebagai notaris selama saya menjabat Dirjen AHU, semata-mata hanya untuk mencegah terjadinya konflik kepentingan.

Pelaksanaan dari komitmen dan tindakan tegas di dalam memimpin Ditjen AHU menimbulkan konsekuensi antara lain, tidak disukai oleh bawahan yang memang telah berperlaku korup sejak lama, pengrusakan kendaraan dinas Dirjen AHU dengan cara menggores badan kendaraan dan memecahkan kaca spion kendaraan, boikot diam-diam terhadap kebijakan Dirjen AHU, penyebaran fitnah keji terhadap Dirjen AHU dan isterinya.

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Kini, satu-satunya harapan saya dan keluarga adalah pada Majelis Hakim yang ditugasi memimpin persidangan saya untuk memberikan penilaian seobjektifnya terhadap fakta hukum yang diperoleh dari persidangan ini. Pertimbangkanlah keterangan saya, saksi-saksi meringankan dan memberatkan dengan sebaik-baiknya.

Begitu pula harapan saya dalam kesempatan yang baik ini adalah agar Majelis Hakim juga mempertimbangkan Sungguh-sungguh keterangan ahli-ahli yang telah hadir di persidangan ini. Sekalipun kehadiran ahli hanya memberikan keterangan berdasarkan keahliannya, akan tetapi yakinlah bahwa tanpa ilmu (hukum) yang benar, dalam menimbang perkara ini, akan sulit kiranya bagi Majelis Hakim yang saya hormati, untuk memperoleh nilai tertinggi kebenaran materiel, kepastian hukum, dan keadilan dalam perkara ini.

KUHAP telah memberikan petunjuk bahwa dalam menentukan kesalahan seorang terdakwa, hakim wajib mempertimbangkan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang dihadirkan dalam persidangan. Dan hakim harus yakin akan kebenaran materiel dari alat-alat bukti tersebut.

Sekali lagi ditekankan bahwa, Keyakinan Hakim itulah yang sangat menentukan. Namun, tetap Keyakinan Hakim itu harus dilandaskan pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak akan kita temukan di dalam sistem peradilan pidana di manapun di dunia yang mencantumkan irah-irah “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kecuali hanya terdapat di dalam sistem kekuasaan Kehakiman di Indonesia.

Saya menolak tuntutan JPU dan memohon dengan sangat kepada Majelis Hakim untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya terhadap saya. Sebagai manusia mahluk Allah Swt, sudah tentu selama persidangan ini ada kata-kata yang kurang berkenan dan sikap yang tidak sopan, dalam kesempatan ini saya menyampaikan maaf kepada semua pihak.

Majelis Hakim dan hadirin yang saya hormati,

Demikian nota pembelaan saya, dan akhirulkata saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan membacakan pembelaan ini dan juga mengucapkan terima kasih atas kesabaran Majelis Hakim, JPU, dan hadirin yang saya hormati.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL